LITERASI JEMBATAN MERAIH PRESTASI

Literasi sebuah kata yang sering kita dengar namun sedikit dari kita yang tahu maknanya. Banyak dari kita menafsikan literasi identik dengan membaca dan menulis, sebuah kegiatan terkesan membosankan yang dilakukan berulang-ulang.

Berdasarkan data SKOR PISA Reading 2022: 359 (Rata-rata OECD: 476. Kita diperingkat 71 dari 81 negara). Skor 359 menunjukkan bahwa kemampuan membaca siswa Indonesia masih tertinggal secara global, terutama dalam memahami dan menganalisis teks.

Ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk memperkuat literasi agar siswa lebih siap menghadapi kehidupan nyata. Literasi menjadi indikator utama prestasi sekolah karena mencerminkan kemampuan nyata siswa dalam memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi.

Hal ini terlihat dalam Rapor Pendidikan yang disusun oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia dan berbasis Asesmen Nasional.

Sejalan dengan standar OECD melalui PISA, semakin tinggi literasi siswa, semakin baik kualitas pembelajaran di sekolah.

Menurut Prof Jiang Xueqin pendidik asal Tiongkok bilang tujuan dari sekolah ada 3 yaitu Literasi, Core Competencies dan Lifelong Learning. Dimana literasi menjadi tujuan utama.

Menurutnya literasi bukan hanya sekedar membaca. Tapi kemampuan menyerap informasi secara komplek, menganalisis sumber berbeda dan menyampaikan gagasan dengan jelas.

Ciri lulusan yang literat bisa membaca buku secara utuh, bisa menulis esai argumentatif dan berdiskusi dengan dasar yang jelas.

Literasi memberi pencerahan dengan menumbuhkan kesadaran dalam berpikir dan bertindak. Seseorang menjadi lebih peka terhadap informasi yang diterima dan tidak mudah percaya begitu saja. Ia juga lebih tenang, reflektif, dan bijak dalam menyikapi berbagai persoalan.

Literasi memperkaya pemikiran dengan melatih cara berpikir yang logis dan terarah. Seseorang terbiasa memahami informasi, membandingkan pendapat, dan melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Dengan begitu, keputusan yang diambil lebih masuk akal dan tidak sekadar ikut-ikutan.

Literasi memberdayakan melalui keterampilan hidup dan pengalaman nyata. Pengetahuan yang dimiliki bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan memberi manfaat. Dari sana, lahir kebiasaan baik yang terus berkembang dan berdampak bagi diri sendiri maupun lingkungan.

Literasi adalah jembatan untuk meraih prestasi. Karena esensinya literasi memberikan pencerahan (enlightenment), memperkaya pemikiran (enrichment), serta memberdayakan (empowerment). Dimana dari 3 fungsi diatas akan memberikan dampak positif bagi ekosistim sekolah.

Dimulai dari kebiasaan murid untuk membaca buku secara utuh, bukan hanya ringkasan, murid bisa menulis esai argumentatif, adanya budaya berdiskusi berbasis bacaan di kelas, perpustakaan sekolah aktif digunakan dan guru sendiri masih membaca buku.

Sebagai pendidik, kita bisa mulai dari kelas kita sendiri. Dimulai dari kelas yang didalamnya berisi kegiatan positif mulai dari mengajak murid untuk membaca utuh walau hanya 1 buku per semester, memberikan kesempatan untuk murid menyampaikan pendapat yang berbeda, memberikan model pembelajar aktif.

Peran komunitas belajar di sekolah memperkuat budaya literasi melalui kolaborasi guru dan siswa dalam berbagi praktik baik pembelajaran.

Dalam kerangka Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, komunitas belajar menjadi ruang refleksi, diskusi, dan pengembangan strategi agar pembelajaran lebih bermakna dan berpusat pada siswa.

Melalui kegiatan seperti diskusi, berbagi pengalaman, dan umpan balik, literasi tidak hanya diajarkan tetapi juga dipraktikkan, sehingga tumbuh menjadi budaya yang mendorong berpikir kritis dan berkelanjutan di sekolah. Revolusi pendidikan tidak hanya menunggu kebijakan.

Revolusi bisa dimulai dari satu guru, satu kelas, satu komunitas belajar di sekolah. Peran pemimpin sekolah menjadi kunci untuk menempatkan dukungan terhadap guru sebagai prioritas utama. Ketika guru berkembang, siswa akan bertumbuh dan ketika siswa bertumbuh, prestasi sekolah menjadi cerah.

 

Scroll to Top