Pagi itu, Tegar sudah terjaga saat langit masih gelap semu terang, ketika kebanyakan orang masih terlelap tidur. Udara dingin menyusup melalui celah-celah bilik bambu rumah sederhana yang ditempatinya bersama keluarga. Bocah sembilan tahun itu meraba lantai yang dingin, lalu bangkit perlahan tanpa suara agar tidak membangunkan adiknya yang masih terlelap di sudut ruangan. Ia terbiasa memulai hari tanpa bantuan siapa pun. Tidak ada sarapan yang menunggu di meja— sebuah meja dari papan kayu tua yang mulai rapuh—seperti hari-hari sebelumnya yang ia jalani tanpa kenal keluh. Perutnya yang kosong sudah menjadi ritual setiap pagi. Ia hanya membasuh sekujur tubuhnya dengan air dingin dari ember kecil, mengusir sisa kantuk yang masih menggantung di matanya. Dengan seragam yang sudah mulai pudar warnanya, Tegar bersiap menempuh perjalanan panjang. Ia akan berjalan kaki sejauh dua kilometer menuju sekolah, melewati jalanan sepi penuh kerikil, terjal dan berbatu. Meski langkahnya ringan, namun beban hidup yang ia pikul jauh lebih berat dari usianya. Namun, tekadnya untuk tetap bersekolah tak kenal menyerah.
Empat puluh lima menit perjalanan ditempuh Tegar hingga akhirnya ia tiba di sekolah. Seragam yang dikenakannya tampak basah, bukan karena hujan, melainkan oleh keringat yang sejak tadi tak berhenti mengalir. Napasnya masih terengah saat melangkah masuk ke halaman. Bu Aminah menjadi orang pertama yang melihatnya; tanpa banyak bicara, beliau menyodorkan segelas air, yang diterima Tegar dengan kedua tangan sebelum ia meneguknya perlahan, seolah menahan haus yang sudah lama ia rasakan. Hari itu suasana sekolah terasa berbeda karena untuk pertama kalinya para siswa mendapatkan Makan Bergizi Gratis (MBG). Tepat pukul 09.00 WIB, petugas datang membawa deretan ompreng berisi makanan, disambut riuh suara anak-anak yang penuh rasa penasaran. Setelah doa bersama, tutup ompreng dibuka dan tampak nasi kuning serta ayam goreng tersaji rapi dengan aroma yang menggoda. Anak-anak langsung makan dengan lahap, suara sendok beradu dengan wadah dan tawa kecil terdengar di sana-sini. Namun Tegar hanya diam; ia menatap makanannya, menelan ludah pelan, tangannya sempat bergerak tetapi kembali terhenti. Bu Aminah mendekat dan bertanya lembut, “Kenapa tidak dimakan? Tidak suka menunya?” Tegar menggeleng pelan, lalu menjawab lirih, “Saya ingat adik saya di rumah, Bu. Tadi pagi saya berangkat tanpa sarapan… adik saya juga belum makan. Saya ingin membawa ini pulang supaya bisa makan bersama.” Bu Aminah terdiam, menatap bocah di hadapannya dengan perasaan yang sulit diungkapkan.
Bu Aminah akhirnya meminta Tegar untuk menghabiskan makanan yang ada, karena ompreng harus dikembalikan setelah waktu makan usai. Dengan berat hati, Tegar mulai menyuap nasi kuning itu perlahan. Perutnya yang sejak pagi kosong seakan mendesaknya untuk makan lebih cepat, tetapi setiap suapan justru menghadirkan bayangan wajah adiknya di rumah. Di sekelilingnya, suara sendok beradu dan tawa kecil teman-temannya terdengar ramai—ada yang makan dengan lahap hingga tak bersisa, ada yang tampak biasa saja, bahkan ada yang menyisakan. Namun Tegar tetap makan dalam diam, menunduk, seolah menelan lebih dari sekadar makanan. Seusai pelajaran, ketika halaman sekolah mulai lengang, Bu Aminah memanggilnya. Tegar mendekat dengan ragu. “Ada apa, Bu?” tanyanya pelan. Bu Aminah tersenyum lembut, lalu menyerahkan sebuah bungkusan kecil. “Ini ada makanan lebih. Bawa pulang saja,” ujarnya. Tegar terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca saat menerima bungkusan itu dengan kedua tangan. “Terima kasih, Bu,” ucapnya lirih, sebelum berbalik dan melangkah pulang, membawa sesuatu yang lebih dari sekadar makanan.
