Siang itu, ruang belajar di SMK PGRI Rogojampi tampak berbeda dari biasanya. Beberapa siswa duduk sambil membawa buku catatan, sebagian lainnya memegang telepon genggam untuk mencatat materi.
Di depan ruangan, layar presentasi menampilkan tulisan sederhana: Pelatihan Dasar Menulis Berita. Tidak ada suasana kaku seperti seminar resmi. Yang hadir justru semangat ingin belajar dari para siswa yang penasaran bagaimana sebuah berita lahir.
Di tengah suasana itu, Andi Budi Setiawan berdiri dengan tenang. Ia tidak langsung berbicara tentang teori rumit atau istilah jurnalistik yang sulit dipahami.
Dengan nada santai, ia membuka pelatihan dengan satu kalimat yang membuat peserta mulai memperhatikan. “Semua orang bisa menulis berita, asal mau belajar jujur melihat peristiwa.” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi perlahan membangun keberanian siswa-siswi yang sebelumnya merasa menulis berita adalah pekerjaan sulit.
Bagi Andi, jurnalistik bukan hanya milik wartawan profesional. Menulis berita adalah keterampilan dasar yang bisa dipelajari siapa saja, termasuk pelajar.
Pelatihan Dasar Menulis Berita yang digelar Komunitas Literasi PROVENA SMK PGRI Rogojampi pada 9 Mei 2026 itu menjadi ruang belajar yang hangat. Kegiatan tersebut diikuti siswa yang memiliki minat pada dunia kepenulisan, media informasi, dan literasi sekolah.
Suasana berlangsung interaktif sejak awal hingga akhir kegiatan. Sebagai pemateri utama, Andi Budi Setiawan tidak hanya hadir membawa materi, tetapi juga pengalaman panjangnya di dunia pendidikan dan literasi.
Dalam file presentasi pelatihan yang dibagikan kepada peserta, Andi dikenalkan sebagai guru, penulis, editor media Sastrawacana.id, sekaligus Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI). Pengalaman itu membuat cara penyampaiannya terasa dekat dengan siswa.
Ia memahami bahwa peserta pelatihan bukan calon jurnalis profesional, melainkan anak-anak muda yang sedang belajar menyusun keberanian melalui tulisan.
Andi kemudian mulai menjelaskan apa itu jurnalistik. Namun, ia menyampaikannya dengan bahasa yang mudah dipahami. Menurutnya, jurnalistik adalah proses mengumpulkan, mengolah, menulis, dan menyebarkan informasi kepada publik melalui berbagai media.
“Berita itu sebenarnya dekat dengan kehidupan kita sehari-hari,” ujarnya di hadapan peserta. “Apa yang kalian lihat di sekolah, kegiatan kelas, lomba, atau peristiwa kecil di lingkungan sekitar, semuanya bisa menjadi berita kalau ditulis dengan baik.”
Di titik itu, para siswa mulai terlihat lebih rileks. Mereka tidak lagi memandang berita sebagai sesuatu yang jauh dan rumit. Beberapa siswa bahkan mulai aktif bertanya tentang bagaimana cara membuat tulisan yang menarik tetapi tetap mudah dipahami.
Dalam sesi berikutnya, Andi menjelaskan fungsi jurnalistik. Tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sarana pendidikan, hiburan, kontrol sosial, hingga ruang menyampaikan aspirasi masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa media memiliki tanggung jawab moral. Karena itu, seorang penulis berita harus berhati-hati terhadap informasi yang disampaikan. “Kalau menulis berita, jangan asal menulis. Pastikan faktanya benar,” katanya.
Materi kemudian berlanjut pada pengertian berita. Andi menjelaskan bahwa berita adalah laporan tentang fakta atau peristiwa nyata yang disajikan secara aktual, menarik, objektif, dan bisa diverifikasi.
Cara penyampaiannya yang santai membuat siswa tidak merasa sedang mengikuti pelajaran berat. Sesekali Andi memberi contoh sederhana dari kejadian di lingkungan sekolah. Ia bahkan meminta siswa memperhatikan aktivitas di sekitar mereka sebagai bahan latihan menulis.
Suasana mulai semakin hidup ketika pembahasan masuk pada unsur berita 5W+1H. Di papan presentasi tertulis: What, Who, When, Where, Why, dan How. “Kalau enam unsur ini sudah terjawab, berarti berita kalian sudah punya arah,” jelasnya.
Ia kemudian memberikan contoh sederhana. Ketika ada kegiatan sekolah, siswa cukup menjawab: apa kegiatannya, siapa yang terlibat, kapan berlangsung, di mana tempatnya, mengapa kegiatan itu penting, dan bagaimana pelaksanaannya.
Bagi sebagian siswa, penjelasan itu menjadi titik terang. Menulis berita ternyata tidak serumit yang dibayangkan. Mereka mulai mencoba menyusun kalimat sendiri berdasarkan peristiwa sederhana yang pernah mereka lihat di sekolah.
Andi juga menjelaskan ciri-ciri berita yang baik, seperti aktual, faktual, akurat, sistematis, lengkap, dan menarik. Namun, ia mengingatkan bahwa menarik bukan berarti berlebihan. “Hindari bahasa yang terlalu berbunga-bunga,” pesannya sambil tersenyum.
Dalam materi tips menulis untuk pemula, Andi menekankan pentingnya menulis fakta, menggunakan kalimat aktif, pendek, jelas, serta menghindari opini pribadi yang berlebihan.
Pesan itu terdengar sederhana, tetapi sangat relevan di tengah derasnya arus informasi digital saat ini. Banyak informasi beredar cepat, tetapi tidak semuanya benar. Karena itu, Andi mengajak siswa untuk menjadi penulis yang jujur dan teliti.
Di sela-sela penyampaian materi, suasana pelatihan terasa cair. Beberapa siswa mulai berani mengajukan pertanyaan tentang bagaimana membuat judul menarik, mencari ide berita, hingga cara menulis lead yang tidak membosankan.
Andi melayani pertanyaan demi pertanyaan dengan sabar. Ia tidak menempatkan dirinya sebagai sosok yang paling tahu, melainkan teman belajar yang sedang berbagi pengalaman.
Menjelang akhir sesi, para peserta diberi praktik membuat berita sederhana berdasarkan kejadian di lingkungan sekolah. Di situlah suasana menjadi semakin menarik.
Ada siswa yang sibuk berdiskusi, ada yang membaca ulang tulisannya berkali-kali, dan ada pula yang mulai percaya diri menunjukkan hasil tulisannya kepada teman lain.
Bagi Andi, keberanian mencoba jauh lebih penting daripada hasil yang langsung sempurna. Ia percaya keterampilan menulis lahir dari proses panjang yang terus dilatih.
Dalam bagian penutup materinya, Andi menampilkan satu kesimpulan sederhana namun mengena: Menulis berita adalah keterampilan yang bisa dilatih. Menulislah mulai dari lingkungan terdekat. Jadilah jurnalis kecil yang jujur dan teliti.
Kalimat itu menjadi penanda bahwa pelatihan hari itu bukan sekadar belajar teori jurnalistik. Lebih dari itu, para siswa sedang belajar tentang keberanian menyampaikan kebenaran, tanggung jawab terhadap informasi, dan pentingnya berpikir terbuka sebagai pembelajar sepanjang hayat.
Siang mulai bergeser ketika pelatihan berakhir. Para siswa perlahan meninggalkan ruangan sambil membawa catatan kecil dan tugas menulis sederhana.
Namun, yang mereka bawa pulang tampaknya bukan hanya materi jurnalistik. Di balik pelatihan singkat itu, tersimpan satu pelajaran penting: bahwa sebuah tulisan bisa menjadi jalan untuk belajar jujur, peduli, dan lebih peka terhadap lingkungan sekitar.
Dan mungkin, dari ruang sederhana di SMK PGRI Rogojampi itulah, lahir langkah-langkah kecil para penulis muda yang suatu hari akan menjaga cerita-cerita baik tetap hidup di tengah masyarakat.
