Pagi itu, ruang layanan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi tampak lebih sibuk dari biasanya. Beberapa orang membawa map berisi naskah, sebagian lain sibuk membuka laptop sambil memeriksa ulang halaman demi halaman tulisan mereka. Di salah satu sudut ruangan, seorang pria berkemeja sederhana duduk tenang sambil sesekali membantu seorang penulis muda memperbaiki susunan daftar isi bukunya.
Pria itu adalah Andi Budi Setiawan, Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI). Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya tetap menyimpan semangat yang hangat. Ia tidak sedang menerbitkan bukunya sendiri hari itu. Ia justru sibuk memastikan buku orang lain bisa lahir dengan baik.
“Kadang penulis itu tidak butuh dipuji dulu,” ujarnya pelan sambil tersenyum. “Mereka hanya butuh ditemani supaya tidak berhenti menulis.”
Kalimat sederhana itu seperti menggambarkan cara Andi memandang literasi: bukan sekadar soal buku, tetapi tentang menemani orang bertumbuh melalui tulisan.
Beberapa tahun terakhir, geliat literasi di Banyuwangi memang berkembang cukup pesat. Banyak komunitas bermunculan, pelatihan menulis semakin sering digelar, dan karya penulis lokal mulai mendapat ruang. Namun, di balik semangat itu, masih banyak penulis pemula yang merasa bingung ketika harus masuk ke proses penerbitan.
Sebagian berhenti di tengah jalan. Sebagian lain menyimpan naskahnya terlalu lama di folder laptop tanpa pernah benar-benar selesai.
Hal itu yang sering ditemui Andi Budi Setiawan saat mendampingi anggota KOPIWANGI. Menurutnya, persoalan terbesar penulis pemula bukan semata kemampuan menulis, melainkan rasa takut memulai dan minimnya pendampingan.
Karena itu, KOPIWANGI hadir bukan hanya sebagai komunitas diskusi, tetapi juga ruang belajar bersama. Mulai dari pelatihan menulis, pendampingan penyusunan naskah, layout buku, hingga pengajuan ISBN dilakukan secara bertahap agar penulis merasa lebih dekat dengan proses penerbitan.
“Kami ingin penulis lokal percaya bahwa karya mereka layak dibaca,” kata Andi. “Jangan sampai ide-ide baik hanya berhenti di catatan pribadi.”
Salah satu pendampingan yang cukup menyita perhatian adalah proses penerbitan buku Seribu Cahaya Dari Satu Harapan. Buku tersebut lahir dari perjalanan seorang anggota komunitas bernama pena Bintang Senja, yang untuk pertama kalinya mencoba menerbitkan karya.
Prosesnya tidak selalu mudah. Ada bagian yang harus direvisi berulang kali, ada tata letak yang perlu diperbaiki, hingga penyusunan profil penulis yang tampak sederhana tetapi cukup membingungkan bagi penulis pemula.
Namun, di situlah KOPIWANGI mengambil peran.
Andi dan tim mendampingi proses tersebut dari awal hingga akhir. Mereka membantu menyusun struktur buku, memeriksa kelengkapan naskah, hingga mendampingi proses administrasi ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi.
Bagi Bintang Senja (nama pena), pendampingan itu bukan sekadar bantuan teknis.
“Terima kasih KOPIWANGI yang sudah mendampingi saya,” ujarnya. “Mulai dari kata pengantar, daftar isi, sampai profil penulis. Rasanya lebih percaya diri menyelesaikan buku ini.”
Di tengah era digital yang bergerak cepat, Andi justru memilih jalan yang tampak sunyi: mendampingi proses kecil satu per satu. Ia percaya budaya literasi tidak dibangun lewat gebrakan sesaat, melainkan melalui ketekunan merawat kebiasaan membaca dan menulis.
Karena itu, KOPIWANGI juga mengadakan pelatihan layout buku bagi anggota yang ingin belajar mandiri. Menurut Andi, penulis masa kini perlu memahami proses penerbitan secara menyeluruh agar lebih siap menghadapi perkembangan dunia literasi digital.
Pelatihan tersebut mendapat sambutan positif dari anggota komunitas. Banyak penulis pemula mulai belajar menyusun desain bukunya sendiri, memahami margin halaman, penempatan ilustrasi, hingga tata letak yang nyaman dibaca.
“Awalnya saya kira layout itu rumit,” kata Bintang Senja sambil tertawa kecil. “Ternyata kalau didampingi pelan-pelan, kita jadi paham.”
Bagi Andi, proses belajar seperti itu jauh lebih penting daripada sekadar hasil cepat. Ia ingin komunitasnya tumbuh dengan semangat saling menguatkan, bukan saling bersaing.
Prinsip itu pula yang membuat KOPIWANGI aktif membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi. Dalam proses pengajuan ISBN, komunitas tersebut rutin berdiskusi dengan pustakawan dan pihak terkait agar penulis memahami prosedur secara benar. 
Pustakawan Ahli Madya Dispusip Banyuwangi, Yusup Choiri, melihat semangat itu sebagai pertanda baik bagi perkembangan literasi daerah.
“Selain puisi, karya seperti cerpen, novel, esai, opini, dan artikel juga bisa diajukan ISBN,” jelasnya. “Kami mendukung penulis lokal agar karya mereka semakin dikenal masyarakat.”
Bagi Andi, dukungan seperti itu sangat berarti. Ia percaya gerakan literasi tidak bisa berjalan sendirian. Perlu ada kerja bersama antara komunitas, pemerintah, sekolah, dan masyarakat.
Namun, di tengah semua aktivitas itu, ada satu hal yang selalu ia jaga: literasi harus tetap membumi.
Ia tidak ingin menulis hanya menjadi aktivitas elitis yang jauh dari masyarakat. Karena itu, banyak kegiatan KOPIWANGI justru dilakukan secara sederhana—di sekolah, balai desa, perpustakaan kecil, bahkan warung kopi.
“Yang penting orang mau mulai menulis dulu,” ujarnya. “Tulisan sederhana pun bisa menjadi jejak penting bagi daerahnya.”
Pernyataan itu terasa relevan di tengah derasnya arus media sosial yang sering membuat orang terburu-buru berbicara tanpa sempat mendokumentasikan gagasan secara utuh. Andi melihat buku dan tulisan tetap memiliki ruang penting sebagai penyimpan ingatan.
Barangkali karena itulah ia memilih tetap bertahan di jalur literasi, meski tidak selalu menjanjikan popularitas ataupun keuntungan besar.
Di akhir pendampingan hari itu, setelah semua dokumen selesai diperiksa, Andi membantu membereskan tumpukan berkas di meja pelayanan. Beberapa penulis muda tampak berpamitan sambil membawa senyum lega.
Sebelum pulang, ia sempat berkata pelan kepada salah satu anggota komunitasnya.
“Kita mungkin tidak bisa langsung mengubah dunia,” katanya, “tetapi kita bisa membantu satu orang agar berani menulis hari ini.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di tangan orang-orang seperti Andi Budi Setiawan, kesederhanaan justru menjadi cara paling nyata untuk menjaga nyala literasi tetap hidup di Banyuwangi.
