MENYALAKAN API LITERASI: PERAN ANDI BUDI SETIAWAN DALAM FESTIVAL LITERASI MTS MAULANA ISHAQ KABAT

Di tengah derasnya arus teknologi digital, literasi tidak lagi hanya hadir di ruang kelas atau di antara rak-rak perpustakaan. Ia menjelma lebih dinamis—hidup di layar, di suara, dan di keberanian anak-anak yang berani menyampaikan pikirannya.

Semangat itulah yang terasa dalam Festival Literasi Season 2 yang digelar MTs Maulana Ishaq Kabat, sebuah ajang yang bukan sekadar perlombaan, tetapi juga ruang tumbuh bagi generasi muda untuk menemukan suaranya.

Dalam festival yang mengusung tema “Berani Bicara, Indah Berkata, Hebat Bercerita” tersebut, kehadiran para juri tidak hanya bertugas menilai, tetapi juga menjadi saksi bagaimana literasi berkembang di kalangan pelajar. Salah satu sosok yang turut memberi warna dalam kegiatan ini adalah Andi Budi Setiawan, Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), yang hadir sebagai juri lomba.

Bagi Andi, festival literasi seperti ini memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar menentukan siapa yang menjadi juara. Ia melihatnya sebagai ruang pembelajaran bagi anak-anak untuk menumbuhkan keberanian, kepekaan bahasa, sekaligus kepercayaan diri dalam mengekspresikan gagasan.

Sebagai pegiat literasi di Banyuwangi, Andi dikenal aktif dalam dunia kepenulisan. Ia telah menulis tiga buku solo berjudul Algoritma Cinta, Eunoia Sangkakala, dan Rumah Ilalang.

Selain itu, ia juga terlibat sebagai kontributor dalam 18 buku antologi, baik fiksi maupun nonfiksi. Pengalaman panjangnya dalam dunia literasi membuatnya memiliki perspektif yang kuat mengenai pentingnya budaya membaca dan menulis di lingkungan pendidikan.

Menurut Andi, masih banyak sekolah yang belum sepenuhnya memberi perhatian serius pada pengembangan literasi.

“Tidak banyak sekolah yang benar-benar peduli terhadap literasi. Kadang literasi hanya menjadi formalitas untuk memenuhi laporan atau rapor literasi sekolah. Selebihnya, buku-buku di perpustakaan hanya menjadi tumpukan bacaan yang jarang dijamah oleh murid, bahkan oleh guru,” ungkapnya.

Namun, ia melihat hal yang berbeda di MTs Maulana Ishaq Kabat. Baginya, madrasah tersebut menunjukkan komitmen nyata dalam menjadikan literasi sebagai bagian penting dari budaya sekolah.

“Di MTs Maulana Ishaq, literasi menjadi salah satu program unggulan. Literasi adalah pondasi utama kemajuan sebuah lembaga pendidikan. Jika tingkat literasi sekolah tinggi, maka baik guru maupun murid memiliki kemampuan literasi yang baik. Itu menjadi modal penting untuk meningkatkan kompetensi akademik maupun nonakademik,” jelasnya.

Apa yang disampaikan Andi bukan sekadar pandangan, tetapi juga terlihat dari berbagai prestasi yang diraih madrasah tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, MTs Maulana Ishaq Kabat kerap menorehkan prestasi di tingkat kabupaten, sebuah bukti bahwa budaya literasi yang kuat mampu mendorong lahirnya berbagai capaian.

Dalam proses penilaian lomba, Andi dan juri yang lain tidak hanya memperhatikan teknik penyampaian atau keindahan bahasa. Ia juga mencoba membaca potensi yang tersimpan dalam diri setiap peserta.

“Setiap anak punya bakat dan potensi sendiri-sendiri untuk tumbuh sesuai dengan passion-nya. Ada yang suka menulis puisi, ada juga yang suka membaca puisi, bahkan ada yang menyukai keduanya. Selama bakat dan kemampuan itu diasah dengan baik dan terus-menerus, suatu saat akan membuahkan hasil dari apa yang telah diperjuangkan. Tinggal menunggu waktu anak-anak itu menjadi berlian yang memiliki nilai tinggi dalam bentuk prestasi atau pencapaian,” ujar Andi.

Melalui pandangan tersebut, terlihat bahwa bagi Andi Budi Setiawan, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah proses menumbuhkan keberanian, mengasah kepekaan rasa, dan membangun karakter.

Festival Literasi Season 2 di MTs Maulana Ishaq Kabat akhirnya tidak hanya melahirkan para pemenang lomba, tetapi juga meninggalkan jejak inspirasi. Bagi para peserta, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga untuk belajar mengekspresikan diri.

Sementara bagi Andi dan para pegiat literasi lainnya, festival ini adalah tanda bahwa harapan terhadap generasi literat masih terus menyala.

Dari panggung sederhana di Kabat, pesan itu kembali ditegaskan: ketika anak-anak diberi ruang untuk membaca, menulis, dan berbicara, kata-kata tidak hanya menjadi rangkaian huruf. Ia akan tumbuh, menemukan sayapnya, dan terbang lebih jauh membawa mimpi generasi masa depan.

 

Scroll to Top