PUISI : MARTHA, NYALA RUMAHKU

Setiap rumah memiliki cahaya yang membuatnya tetap hidup. Bukan sekadar dinding, atap, atau ruang-ruang yang menampung cerita, tetapi seseorang yang dengan kesabaran dan ketulusan menjaga kehangatan di dalamnya. Cahaya itu kadang hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: sebuah senyum yang menenangkan, doa yang diam-diam dipanjatkan, atau kesetiaan yang tetap bertahan di tengah riuhnya kehidupan.

 

Puisi “Martha, Nyala Rumahku” lahir dari kesadaran akan perjalanan waktu yang tak terasa telah berjalan begitu jauh. Dua belas tahun kehidupan rumah tangga menjadi ruang belajar tentang arti kebersamaan: membaca waktu dari tangis dan tawa anak, memahami lelah yang datang silih berganti, serta menemukan tempat pulang di dalam pelukan yang sama.

Di usia yang genap tiga puluh tujuh tahun, sosok Martha menjadi simbol dari keteduhan itu—seorang istri, ibu, sekaligus penjaga cahaya kecil yang tak pernah padam di beranda kehidupan. Kesabarannya luas seperti langit senja, dan doanya yang sunyi menjadi penyangga rumah dari hal-hal yang tak terlihat.

Puisi ini bukan sekadar ungkapan cinta, melainkan juga ungkapan syukur atas perjalanan yang telah dilalui bersama. Sebuah pengakuan sederhana bahwa pada akhirnya mencintai seseorang sering kali berarti menemukan rumah—di dalam hatinya.

 

Scroll to Top