Cinta tak mengenal apa itu kebencian, karena ia lahir dari sebuah perasaan – suci layaknya bayi yang terlahir di dunia.
Ia begitu polos bagai selembar kertas putih tiada coretan, sederhana tanpa kata-kata
Cinta adalah kontemplasi hati dan pikiran yang terekstraksi kedalam perbuatan, karena ia begitu tulus seperti halnya melakukan kebaikan tanpa syarat apa pun – tanpa mengharap apa pun. Ia original tanpa ada modifikasi rasa
Cinta tak mengenal apa itu dusta, atau negasi dari sebuah rasa. Karena ia ada sebagai penghubung yang mendiami ruang hati manusia, membawanya menuju jalan kebahagiaan tanpa ada tipu daya
Cinta adalah orasi rasa dengan bahasa retorika, menjelma menjadi sebuah tuntunan perjalanan para musafir cinta yang tersesat didalamnya rasa, terjerat didalamnya emosi jiwa membawanya menuju telaga yang penuh suka cita
/2/
Cinta adalah benih rasa yang tertanam didalam hati yang subur, ia tumbuh dalam hangatnya kasih sayang menjelma menjadi sebuah kekuatan hati dan pikiran tanpa butuh rumus atau pun formula
Cinta adalah sebuah relasi fungsi,hanya tumbuh dan berkembang di satu hati; hati yang saling terkoneksi satu dengan yang lain tanpa ada rekayasa
Cinta adalah gugusan algoritma yang menjelma ke dalam manuskrip menembus tatanan peradaban; logi, etika dan estetika
Cinta terhubung dalam interval ruang dan waktu, layaknya perjalanan spiritual antara dua hati tanpa tendensi; harta atau pun tahta – Ia sanggup berjalan melewati api dan bara; tanpa gentar sedikitpun melangkah ke depan untuk menggapai mahligai cinta
/3/
Cinta adalah deferensiasi rasa, yang terefleksi dalam setiap tindakan utuk membuat pasangan bahagia; merasa nyaman dalam hangatnya dekapan; teduh dalam setiap kebijakan; merasa dihargai dalam setiap kondisi; merasa tenang dalam setiap ungkapan rasa
Cinta ibarat rumus phytagoras yang terlahir dari garis vertikal dan horisontal hingga terkoneksi garis hipotenusa membentuk segitiga – sebagai penanda hubungan sejati; sebuah hubungan yang terlahir atas dasar karenaNya
Cinta ibarat jembatan yang menghantarkan setiap pejalan kaki menuju sebuah tempat untuk berpijak – dimana masa depan akan dibangun dari tetesan keringat dan kasih sayang untuk sepenggal rasa
Cinta adalah perantara menuju sebuah tempat yang telah lama dinanti; sebuah tempat peristirahatan terkahir; menua bersama – sehidup semati menuju tempat suci untuk bertemu Rabbi.
Rumah Ilalang – Rimbun Kata Teduhkan Rasa, Andi Budi Setiawan
