Tubuhnya lemas setelah begadang semalaman. Di kelas, teman-temannya memanggilnya Raga—anak yang hampir selalu terlihat tertidur di bangkunya. Ia datang ke sekolah hanya membawa satu buku tulis dan sebatang pulpen, tanpa tas seperti siswa lain. Banyak teman mencoba menasihatinya, bahkan ada yang menawarkan tas sekolah bekas yang masih layak pakai. Namun Raga selalu menolak dan tetap diam. Sebagian teman akhirnya mencibir, menyuruhnya lebih baik tidur saja di rumah jika tidak berniat belajar. Raga tetap tak peduli. Hidupnya seakan hanya berputar pada gim di ponselnya, meskipun guru BK sudah berkali-kali memanggilnya. Pagi itu, tubuh kurusnya terbaring di bangku seperti biasa. Namun ketika namanya dipanggil saat absen, ia tak menjawab hingga tiga kali.
Teman di depannya mencoba membangunkannya, tetapi Raga tak kunjung sadar. Guru pun segera memeriksa dan mendapati Raga pingsan. Ia lalu dibawa ke UKS sebelum akhirnya dirujuk ke puskesmas terdekat. Jarum infus terpasang di lengannya, sementara guru kelas dan guru BK menemaninya. Sekolah tahu hidup Raga tidak mudah. Kedua orang tuanya merantau dan hidup terpisah karena tekanan ekonomi. Sejak neneknya—satu-satunya orang yang merawatnya—meninggal setahun lalu, Raga hidup sendirian. Luka keluarga dan kesepian membuatnya semakin tertutup. Ia melarikan diri ke dunia gim, seolah di sanalah satu-satunya tempat ia bisa melupakan semuanya. Dua hari terakhir ia bahkan tidak makan, hanya minum air.
Dua jam kemudian Raga perlahan membuka mata. Guru kelas menanyakan keadaannya, sementara guru BK menepuk pundaknya lembut. “Kalau kamu lelah, istirahatlah. Beban itu tidak harus kamu tanggung sendirian,” katanya pelan. Kalimat itu seketika mengingatkan Raga pada pesan terakhir neneknya. Air matanya pun pecah. Untuk pertama kalinya ia merasa tidak sepenuhnya sendirian. Di tengah kesunyian yang selama ini menelannya, ternyata masih ada orang yang peduli. Dalam hatinya Raga berjanji pada dirinya sendiri: setidaknya ia harus bertahan dan lulus sekolah—sebagai bukti bahwa hidupnya belum selesai.
Rogojampi, 13 Maret 2026 - Di Meja Kerja - Andi Budi Setiawan
