PUISI : JEJAK PAGI DI PASAR ROGOJAMPI

Langit masih gelap, meski pagi telah menyapa ruang

Hawa dingin tak jadi penghalang untuk mereka datang berdagang

Langkah kaki lalu lalang datang bak bunyi genderang perang

Di kanan-kiri berjajar lapak dengan sinar lampu sebagai penerang

Mereka beradu cepat menata barang dagang, untuk menarik perhatian orang

Menghadang pembeli yang datang dengan segenggam uang

Untuk ditukar dengan sekarung nasi dan seikat bawang  

 

Langit masih nampak gelap meski hitamnya berangsur memudar

Ditengah hiruk-pikuk suasana subuh; udara masih terasa segar

Kerumunan langkah semakin ramai terdengar

Hingar bingar pedagang berlomba-lomba menawarkan bermacam sayuran, ikan dan buah-buahan

Lantunan sajak rayuan gombal sang pedagang:

“Silahkan, Bu! Ada Tribang dan Udang yang masih segar.”

Tanpa basa-basi sang ibu pun membeli tanpa tawar-menawar

Meski aroma anyir menyengat dengan kaki sedikit kotor dibalut lumpur sisa hujan semalam. Di pojok lapak usang itu mereka tertawa bersama. 

 

Para pedagang itu sangat senang kantongnya penuh berisi uang

Dari seikat sayur ia dapatkan untung berulang-ulang

Dari sepotong daging ia dapatkan untung yang menjulang

Sedikit demi sedikit mampu untuk menutup hutang

Selangkah demi selangkah mampu melewati jalan terang

Pasar tradisional surga bagi pencari rejeki dengan seribu peluang  

 

Pasar tradisional menawarkan sejuta cerita

Cerita tentang penjual gorengan dengan pelanggan tuna rungunya

Cerita tentang penjual jajanan dengan pelanggan tuna netranya

Cerita tentang penjual nasi dengan pelanggan tuna daksanya

Cerita tentang pembeli dengan sepenggal tujuan

Berharap sesuatu mereka inginkan terpaut dalam genggaman

Pasar Tradisional surga bagi penikmat kopi dan sebungkus ketan.

 

Andi Budi Setiawan

Buku Sajak Tanah Belambangan – Sepenggal Cerita Dari Ujung Timur Pulang Jawa

 

Scroll to Top