PENTIGRAF : TAS YANG TAK PERNAH KOSONG

Tak banyak yang tahu bahwa hidup telah menguji Saka sejak usia yang begitu muda. Di umur dua belas tahun, ia tetap berjalan ke sekolah dengan tas lusuh yang selalu ia peluk seperti perisai – setia menemani di 5 tahun terakhir ini, meski perutnya kerap kali lapar sejak malam sebelumnya. Saat kantuk menutup matanya, ia basuh wajahnya dengan air wudu, seolah memberi napas baru pada langkahnya. Tas itu tak pernah berisi penuh—hanya buku tipis dan harapan yang ia simpan rapat. Ayahnya kehilangan pekerjaan pascapandemi, ibunya mengais barang bekas, dan di tengah ejekan yang singgah, Saka menaruh cita-citanya di dalam tas yang lusuh itu. Pagi itu, entah mengapa, tali tasnya terasa lebih berat dari biasanya.

Siang hari hujan turun tanpa jeda ketika Saka pulang tanpa alas kaki, sepatunya terbungkus plastik tipis di dalam tasnya. Ia baru tahu alasan berat itu saat tiba di rumah: ayahnya terbaring lemah setelah jatuh dari genting, tak lagi mampu bekerja. Ibunya mondar-mandir dengan wajah pecah, memeluk adik yang rewel sambil menahan panik. Saka berdiri kaku di ambang pintu, meremas tali tasnya sampai buku-buku di dalamnya terlipat. Dari saku depan tas, sebuah lembar tugas sekolah yang belum selesai menyembul—basah oleh hujan yang merembes masuk. Di situlah ia paham: yang tumbang bukan hanya ayahnya, tetapi juga waktu kanaknya.

Malamnya, di bawah atap yang bocor, Saka membuka tas itu pelan-pelan. Ia mengeringkan buku dengan napas sendiri, lalu menyelipkan kantong plastik kosong ke dalamnya—bukan lagi untuk melindungi sepatu, melainkan untuk sesuatu yang harus ia cari sepulang sekolah. Esok pagi tas itu tetap ia bawa ke kelas, dan sore harinya tas yang sama akan ikut menemaninya berjalan lebih jauh dari biasanya. Tak ada yang berubah dari luar: seorang anak, sebuah tas, dan jalan pulang yang basah. Hanya bebannya kini belajar berjalan di dua arah.

Penulis Andi Budi Setiawan

 

Scroll to Top