MENULIS ESAI: RUANG BEBAS GURU UNTUK BERPIKIR DAN BERSUARA

Di dunia pendidikan, guru sering kali dituntut untuk sibuk mengajar, menilai, menyusun perangkat, dan menyesuaikan diri dengan kebijakan yang terus berubah. Namun, di balik rutinitas itu, ada satu ruang penting yang kerap terabaikan: ruang untuk berpikir, merenung, dan menyuarakan pengalaman. Di sinilah esai menemukan relevansinya.

Sejak lama, menulis menjadi jalan bagi manusia biasa untuk meninggalkan jejak gagasan. Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan, jika seseorang bukan anak raja atau ulama besar, maka menulislah. Kalimat sederhana ini menyimpan pesan kuat: tulisan memberi ruang bagi siapa pun untuk dikenang melalui pikirannya. Bagi guru dan pegiat literasi, esai adalah salah satu bentuk paling manusiawi dari tulisan itu.

Esai dan Jejak Sejarahnya

Istilah esai pertama kali dikenal luas melalui Michel de Montaigne, filsuf Prancis abad ke-15. Baginya, esai adalah cerminan dan percobaan—upaya menuangkan gagasan secara lentur, reflektif, dan personal. Esai bukan puisi, tetapi tidak boleh kering dari rasa. Ia juga bukan cerpen atau novel, tetapi tetap harus bercerita dan menghadirkan suasana, meski secara tersirat. Pandangan ini kemudian berkembang.

Emha Ainun Nadjib dan Gus Dur, misalnya, melihat esai sebagai karya “bukan-bukan”: bukan puisi, bukan karya ilmiah. Posisi esai berada di antara keduanya—tidak seketat karya ilmiah, namun juga tidak sebebas puisi. Zen R.S. dan Ignas Kleden menegaskan bahwa dalam esai, pembaca tidak hanya berhadapan dengan teks, tetapi juga dengan penulisnya.

Gerak pikiran, kegelisahan, dan sikap penulis terasa hadir di dalam tulisan. Secara sederhana, esai dapat dipahami sebagai karangan prosa yang membahas suatu persoalan dari sudut pandang pribadi penulis. Ia bersifat subjektif dan interpretatif. Panjang esai tidak menjadi soal. Ada esai yang hanya ratusan kata, ada pula yang sangat panjang. Yang lebih penting adalah dampaknya bagi pembaca: apakah membuka pikiran, menggugah perasaan, atau memantik refleksi.

Ragam dan Bentuk Esai

Dalam praktiknya, esai hadir dalam berbagai bentuk. Ada esai deskriptif yang melukiskan objek atau peristiwa tertentu. Ada esai tajuk yang menyuarakan sikap terhadap isu sosial. Esai cukilan watak mengupas sisi-sisi kehidupan seseorang, sementara esai pribadi menyoroti pengalaman penulis sendiri.

Selain itu, dikenal pula esai reflektif yang merenungkan kebijakan atau persoalan publik, serta esai kritik yang menilai kelebihan dan kekurangan suatu karya atau fenomena. Keberagaman jenis ini menunjukkan bahwa esai adalah ruang yang terbuka. Guru dapat menulis tentang kelasnya, kebijakan pendidikan, perubahan kurikulum, atau pengalaman sederhana yang sarat makna.  

Struktur yang Lentur, Bahasa yang Bertanggung Jawab

Meski esai dikenal longgar, bukan berarti ia tanpa struktur. Secara umum, esai memiliki pendahuluan, pembahasan, dan penutup. Pendahuluan berfungsi mengenalkan tema dan sudut pandang penulis. Pembahasan menjadi ruang pengembangan gagasan dan argumentasi. Penutup tidak harus berupa jawaban mutlak, melainkan simpulan reflektif yang mengikat keseluruhan tulisan.

Bahasa esai hendaknya tetap berpijak pada kaidah kebahasaan. Kata baku dan kalimat efektif penting agar gagasan tersampaikan dengan jernih. Namun, seperti diingatkan Montaigne, bahasa esai harus lentur—tidak kaku, tidak berjarak, dan dekat dengan pembaca.  

Esai dan Dunia Pendidikan

Ruang lingkup esai sangat luas, termasuk pendidikan. Implementasi Kurikulum Merdeka, inovasi pembelajaran, peran guru, tantangan di kelas, hingga pembelajaran berdiferensiasi, semuanya dapat menjadi bahan esai. Esai memberi guru kesempatan untuk menuliskan praktik nyata, bukan sekadar laporan formal, tetapi refleksi jujur dari lapangan.

Proses menulis esai pun tidak rumit. Penulis cukup menentukan tema yang dikuasai, menyusun kerangka sederhana, membaca untuk memperkaya sudut pandang, lalu menulis dengan bahasa yang jelas. Tahap akhir yang tak kalah penting adalah membaca ulang tulisan untuk memastikan ketepatan ejaan dan alur.  

Esai sebagai Latihan Kejujuran Intelektual

Menulis esai pada dasarnya adalah latihan kejujuran. Kejujuran pada pengalaman, pada kegelisahan, dan pada pikiran sendiri. Bagi guru dan pegiat literasi, esai bukan sekadar produk tulisan, melainkan proses menyelami diri dan realitas pendidikan.

Di tengah dunia yang serba cepat dan serba angka, esai mengajak kita melambat sejenak—berpikir, merasakan, lalu menuliskannya. Dari sanalah literasi tumbuh, bukan sebagai kewajiban, tetapi sebagai kesadaran.

Sumber Referensi: Putri, Meilysa Ajeng Kartika. (2024).Menulis esai tema Kurikulum Merdeka [Materi webinar nasional].

Penulis Andi Budi Setiawan, S.Pd

 

Scroll to Top