SASTRA DI MATA GENERASI Z: BUKAN MATI, MELAINKAN SEDANG BERUBAH ARAH

Di tengah gempuran media sosial, budaya visual, dan arus informasi serba cepat, sastra kerap dianggap kehilangan relevansinya di mata Generasi Z. Generasi yang lahir dan tumbuh bersama gawai ini sering dilabeli sebagai generasi instan, jauh dari buku, apalagi karya sastra. Label tersebut kerap diterima begitu saja tanpa pembacaan yang lebih jernih.

Padahal, pertanyaan yang lebih mendasar justru layak diajukan: benarkah Generasi Z meninggalkan sastra, atau justru cara kita memahami sastra yang tertinggal oleh zaman? Berbagai riset menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat.

Penelitian tentang cyber literature mencatat bahwa mayoritas Generasi Z tetap mengakses karya sastra, meski tidak lagi terbatas pada buku cetak. Mereka membaca cerpen, puisi, dan novel melalui platform digital karena dinilai lebih praktis, mudah dijangkau, dan selaras dengan ritme hidup mereka.

Di saat yang sama, riset tentang literasi digital juga menunjukkan bahwa Generasi Z tidak sepenuhnya meninggalkan pembacaan mendalam (deep reading). Mereka tetap mencari bacaan yang mampu menyentuh secara emosional dan reflektif ketika menemukan karya yang relevan dengan pengalaman hidupnya.

Fenomena ini menegaskan satu hal penting: sastra tidak mati, melainkan berpindah medium. Cerpen digital, puisi media sosial, novel daring, hingga zine dan karya visual-naratif menjadi ruang baru perjumpaan Generasi Z dengan sastra. Medium boleh berubah, tetapi substansi sastra tetap sama—cerita tentang manusia, pergulatan batin, dan pencarian makna hidup. Sastra tidak kehilangan ruhnya; ia hanya menemukan saluran yang berbeda.

Perubahan tersebut juga tampak jelas pada cara Generasi Z menulis sastra. Sejumlah kajian akademik menunjukkan bahwa penulis muda Generasi Z cenderung menggunakan plot nonlinier, sudut pandang personal, serta gaya penceritaan yang lebih dekat dengan pengalaman keseharian.

Mereka menulis dengan kesadaran penuh akan audiens, konteks digital, dan dinamika emosional pembaca. Tidak sedikit karya sastra Generasi Z lahir dari isu identitas, kesehatan mental, relasi sosial, hingga kritik terhadap realitas yang mereka hadapi.

Gaya penulisan ini kerap dianggap dangkal oleh sebagian kalangan. Namun, yang terjadi sejatinya bukan penurunan kualitas, melainkan pergeseran estetika dan strategi naratif.

Sastra Generasi Z bersifat eksperimental dan kontekstual—mencerminkan zamannya sendiri. Dalam sejarah sastra, perubahan semacam ini bukan hal baru. Setiap generasi selalu menemukan caranya sendiri untuk bercerita, sekaligus memperluas batas-batas sastra.  

Menariknya, Generasi Z juga tidak sepenuhnya berpaling dari sastra klasik. Fenomena meningkatnya minat terhadap karya-karya Fyodor Dostoyevsky, Franz Kafka, atau Albert Camus di kalangan pembaca muda—sebagaimana dilaporkan sejumlah media internasional—menunjukkan bahwa Generasi Z tetap tertarik pada bacaan yang berat dan reflektif.

Media digital dan komunitas pembaca daring justru menjadi pintu masuk baru yang memperkenalkan sastra klasik secara lebih kontekstual, dekat dengan problem eksistensial yang mereka alami hari ini.

Fakta ini menepis anggapan bahwa Generasi Z hanya menyukai bacaan ringan. Mereka tidak alergi pada kedalaman, tetapi membutuhkan jembatan yang tepat. Ketika sastra klasik dihadirkan sebagai cermin kegelisahan manusia yang lintas zaman, Generasi Z justru mampu menemukan dirinya di dalam teks-teks lama tersebut.

Sebagai pegiat literasi yang kerap berinteraksi dengan pelajar dan mahasiswa, saya melihat langsung bagaimana Generasi Z merespons sastra dengan cara yang sering kali luput dari perhatian. Mereka berdiskusi tentang tokoh, menafsirkan puisi dengan pengalaman personal, bahkan menulis ulang cerita dengan sudut pandang baru. Namun, antusiasme ini tidak selalu menemukan ruang yang memadai di sekolah.

Kurikulum sastra masih terlalu sering terjebak pada hafalan biografi pengarang, alih-alih memberi ruang dialog antara teks dan realitas hidup peserta didik.

Di sinilah tantangan terbesar sastra hari ini. Kurikulum sastra di sekolah perlu dibaca ulang agar tidak menjauhkan generasi muda dari sastra itu sendiri. Sastra seharusnya diajarkan sebagai pengalaman membaca dan berpikir, bukan sekadar materi ujian. Tanpa pembaruan pendekatan, sekolah justru berisiko menjadi ruang yang mematikan minat sastra, bukan menumbuhkannya.

Tentu saja, sastra di era Generasi Z menghadapi tantangan lain: fragmentasi perhatian, dominasi algoritma, dan budaya serba cepat. Namun, tantangan ini tidak seharusnya dijawab dengan pesimisme. Sastra dituntut untuk lebih komunikatif, kontekstual, dan dialogis, tanpa kehilangan kedalaman dan daya reflektifnya.

Sastra di mata Generasi Z bukanlah sastra yang mati. Ia sedang berubah arah, mencari bentuk paling jujur sesuai zamannya. Generasi Z bukan ancaman bagi sastra, melainkan cermin yang memaksa kita untuk berani memperbarui cara membaca, mengajarkan, dan merawat sastra. Jika sastra ingin tetap hidup, maka ia harus bersedia berdialog dengan generasi hari ini—bukan memaksanya berjalan dengan peta lama.

Penulis: Andi Budi Setiawan

 

Scroll to Top