Di tengah ritme hidup yang kian cepat, manusia modern semakin jauh dari alam. Jam kerja panjang, tekanan ekonomi, arus informasi tanpa henti, dan hiruk-pikuk permasalahan hidup membuat stres seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian.
Tak heran jika banyak orang kini mencari cara sederhana untuk kembali menemukan ketenangan, salah satunya melalui praktik grounding atau earthing.
Grounding pada dasarnya adalah aktivitas sederhana: menghubungkan tubuh secara langsung dengan permukaan bumi, seperti berjalan tanpa alas kaki di tanah atau rumput.
Meski terdengar sepele, kebiasaan ini mulai dilirik sebagai alternatif terapi alami yang murah, mudah, dan bisa dilakukan siapa saja. Menginjak tanah atau rumput dengan kaki telanjang bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga pengalaman sensorik yang menenangkan.
Kontak langsung dengan bumi memberi sensasi dingin, lembut, dan stabil—sebuah kontras dengan lantai beton, sepatu, dan gawai yang setiap hari kita gunakan. Dalam kondisi tersebut, tubuh seolah “dipaksa” untuk berhenti sejenak, bernapas lebih pelan, dan hadir sepenuhnya pada momen saat ini.
Jika menilik kehidupan orang tua zaman dahulu, sebagian besar aktivitas mereka sangat dekat dengan alam. Sejak pagi hari, mereka bangun lebih awal, membersihkan diri, menunaikan salat Subuh, lalu berangkat ke sawah atau kebun sebagai rutinitas harian yang sarat nilai kedisiplinan dan keselarasan hidup.
Dalam menjalani aktivitas di sawah atau kebun, kebanyakan dari mereka tidak menggunakan alas kaki seperti sepatu atau sandal. Kedua kaki menyentuh langsung tanah sebagai bagian dari keseharian, tanpa rasa takut kotor atau khawatir, karena alam telah menyatu dengan tubuh dan aktivitas mereka.
Tanpa disadari, kebiasaan tersebut sejatinya merupakan praktik grounding yang dilakukan secara alami dan berulang setiap hari, dengan durasi yang cukup lama. Kontak langsung dengan tanah atau rumput itulah yang secara perlahan memberi dampak positif bagi tubuh, sehingga tak mengherankan jika banyak orang zaman dahulu memiliki usia relatif panjang dan kondisi fisik yang lebih prima.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa grounding berpotensi memberikan dampak positif bagi tubuh, mulai dari mengurangi peradangan, membantu kualitas tidur, hingga menurunkan kadar hormon stres.
Namun, terlepas dari data ilmiah, pengalaman subjektif banyak orang juga memperlihatkan hal serupa: tubuh terasa lebih rileks, pikiran lebih jernih, dan emosi lebih stabil setelah rutin melakukan grounding.
Grounding menjadi semakin relevan ketika dilakukan secara rutin setiap hari selama 10 hingga 30 menit. Durasi ini cukup untuk memberi waktu bagi tubuh dan pikiran beradaptasi dengan suasana alam. Tanpa perlu alat khusus, tanpa biaya mahal, tanpa prosedur rumit—cukup sepetak halaman, taman, atau rerumputan di sekitar rumah.
Lebih dari sekadar manfaat fisik, grounding juga berkontribusi membentuk pola pikir yang lebih tenang dan stabil. Seseorang menjadi tidak mudah stres, lebih sadar akan dirinya, serta tumbuh rasa syukur yang mendalam atas anugerah kehidupan yang telah Tuhan berikan.
Di era ketika stres menjadi “penyakit bersama”, grounding dapat dipandang sebagai bentuk perlawanan kecil terhadap gaya hidup yang terlalu mekanis. Ia mengajak manusia kembali pada fitrahnya sebagai makhluk yang hidup berdampingan dengan alam.
Saat kaki menyentuh tanah, ada pesan sederhana yang terasa kuat: bahwa kita tidak sendiri, bahwa bumi tetap menopang, dan bahwa ketenangan bisa ditemukan dari hal-hal paling dasar.
Tentu saja, grounding bukanlah obat mujarab yang menyelesaikan semua persoalan hidup. Namun sebagai alternatif terapi sederhana, grounding layak dipertimbangkan—terutama bagi mereka yang lelah dengan rutinitas, tekanan pekerjaan, dan kompleksitas hidup modern.
Ia hemat, mudah, dan dapat dilakukan siapa saja, kapan saja. Barangkali, di tengah dunia yang semakin bising, menginjak tanah dengan kaki telanjang adalah cara paling sunyi untuk kembali mendengar diri sendiri.
Penulis Andi Budi Setiawan
Referensi Pendukung Inti
- Chevalier, G., Sinatra, S. T., Oschman, J. L., & Delany, R. M. Earthing: Health Implications of Reconnecting the Human Body to the Earth’s Surface Electrons. Journal of Environmental and Public Health, 2012. → Referensi utama yang menjelaskan konsep grounding, mekanisme biologis, serta kaitannya dengan peradangan dan stres.
- Cleveland Clinic Health Essentials. What Is Earthing—and Does It Really Work? Cleveland Clinic, 2022. → Pandangan medis kredibel yang menempatkan grounding sebagai praktik sederhana, aman, dan pelengkap gaya hidup sehat.
