Sastrawacana: Ruang Tumbuh Jurnalisme di Antara Literasi dan Meja Redaksi

Bagi seorang pengamat dunia literasi dan jurnalisme lokal, perjalanan Andi Budi Setiawan di media daring Sastrawacana mencerminkan irisan menarik antara dunia pendidikan, sastra, dan jurnalisme.

Berangkat dari profesinya sebagai guru matematika di sebuah SMK swasta di Banyuwangi, ia menunjukkan bahwa aktivitas jurnalistik tidak selalu lahir dari ruang redaksi semata, melainkan dapat tumbuh dari kesadaran intelektual dan panggilan nurani.

Di tengah kesibukannya mengajar di kelas, mengisi bimbingan belajar, serta aktif menulis karya sastra, Andi Budi Setiawan tetap menyisakan ruang untuk menulis berita dan opini.

Aktivitas tersebut bukan sekadar rutinitas tambahan, melainkan bentuk tanggung jawab personal untuk ikut mengabadikan peristiwa dan menghadirkan cerita yang bernilai bagi masyarakat luas.

Jejak kepenulisan Andi terbilang panjang. Ia telah menulis puisi, quote, opini, hingga buku—tiga buku solo dan delapan belas buku antologi fiksi maupun nonfiksi.

Karya-karyanya dipublikasikan melalui media sosial, laman pribadi, serta sejumlah media daring. Namun, ketika terlibat aktif sebagai jurnalis di Sastrawacana, tantangan yang dihadapi menjadi lebih kompleks.

Dunia jurnalistik menuntut kedisiplinan, ketelitian, dan tanggung jawab etik yang tinggi. Sebuah peristiwa tidak cukup ditulis secara naratif, tetapi harus disajikan secara utuh, berimbang, dan memiliki nilai publik.

Dalam konteks ini, Sastrawacana tampil bukan sekadar sebagai media online, melainkan rumah literasi yang telah lebih dari satu dekade konsisten menyuarakan konten positif, edukatif, dan inspiratif. Fokus media ini pada pendidikan, literasi, dan prestasi menjadikannya selaras dengan nilai-nilai yang selama ini diperjuangkan Andi.

Karena itu, tidak mengherankan bila ia banyak memberi perhatian pada isu-isu literasi dan pendidikan—mulai dari geliat literasi di Banyuwangi, prestasi peserta didik dan pendidik, hingga peristiwa-peristiwa kecil yang sering luput dari sorotan media arus utama.

Bagi pengamat, konsistensi tersebut menunjukkan satu hal penting: keyakinan bahwa setiap peristiwa, sekecil apa pun, layak untuk ditulis.

Setiap cerita memiliki potensi inspirasi jika diolah dengan kejujuran dan kepekaan. Di titik inilah makna jurnalisme menemukan relevansinya—hadir untuk merekam, mengolah, dan menyampaikan nilai-nilai positif kepada publik.

Pandangan tersebut sejalan dengan penilaian Pimpinan Redaksi Sastrawacana, Maulana Affandi, S.S. Ia menyebut Andi Budi Setiawan sebagai salah satu aset penting media karena konsistensinya dalam menulis, khususnya pada isu literasi dan pendidikan.

Menurutnya, konsistensi dalam menulis berita maupun opini itulah yang membuatnya layak memperoleh penghargaan. Penghujung tahun 2025 menjadi momen penting dalam perjalanan tersebut.

Penghargaan sebagai Jurnalis Produktif Tahun 2025 dari Sastrawacana bukan sekadar capaian personal, melainkan pengakuan atas proses panjang yang dijalani dengan kesungguhan dan disiplin.

Penghargaan itu diberikan langsung oleh Maulana Affandi, sosok yang dikenal memiliki komitmen kuat dalam menjaga marwah media yang berorientasi pada literasi dan konten positif.

Apresiasi ini, dalam pandangan pengamat, memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar seremoni tahunan. Ia menjadi simbol bahwa kerja jurnalistik yang dilakukan secara konsisten dan bertanggung jawab tetap mendapatkan ruang dan penghargaan.

Lebih dari itu, penghargaan tersebut berfungsi sebagai pemantik semangat untuk terus berkontribusi melalui tulisan yang mencerahkan.

Sebagai Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), capaian ini sekaligus menegaskan bahwa jurnalisme dan literasi adalah dua ranah yang saling menguatkan.

Keduanya menjadi “dua sayap” yang memungkinkan seorang penulis dan pendidik memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.

Harapannya, program apresiasi semacam ini dapat terus dilanjutkan dan menjadi motivasi bagi jurnalis lain untuk tetap produktif menulis berita, opini, dan artikel yang edukatif.

Sastrawacana diharapkan tetap menjadi ruang bersama yang menjaga idealisme jurnalistik, menyajikan informasi yang positif, serta terus menyalakan api literasi melalui tulisan yang jujur, konsisten, dan bertanggung jawab.

 

Scroll to Top