MENULIS SEBAGAI INTEGRITAS: METODE JURNALISME PELAJAR ANDI BUDI SETIAWAN DI KELAS LITERASI

Suara kursi yang bergeser pelan memecah keheningan ruang kelas. Seorang pria berkemeja sederhana berdiri di depan papan tulis, tersenyum, lalu melempar pertanyaan yang membuat peserta saling menoleh.

“Seorang jurnalis harus memiliki kesadaran, berpikir terbuka, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat,” ujarnya tenang, memberi jeda agar kalimat itu benar-benar dipahami.

Pria itu adalah Andi Budi Setiawan, narasumber pertama dalam pelatihan jurnalistik lanjutan ekstrakurikuler Models Jurnalistik di SMK Muhammadiyah 8 Siliragung. Ia tidak membuka kelas dengan teori panjang, melainkan dengan pertanyaan reflektif tentang tujuan menjadi jurnalis pelajar.

Pendekatan humanis langsung terasa. Ia berjalan mendekati meja peserta, mendengar jawaban mereka, lalu merapikannya dengan redaksi yang lebih jelas tanpa menggurui. Cara itu membuat peserta percaya diri untuk terlibat dalam diskusi.

Dalam paparannya, ia menyusun materi secara sistematis ke dalam enam aspek utama: mindset jurnalis, peran jurnalis sekolah, teknik menemukan angle, reportase, penulisan berita populer untuk media sosial, dan etika jurnalistik. Setiap bagian dikaitkan dengan praktik nyata di lingkungan sekolah.

Ia menegaskan bahwa satu peristiwa sekolah dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. “Kalian tidak hanya mencatat kejadian, tetapi memilih sudut yang paling bermakna,” katanya.

Sebagai jurnalis dari Sastrawacana.id dan penulis yang karyanya terbit melalui Penerbit Lintang Banyuwangi, ia membawa pengalaman lapangan ke ruang kelas. Namun yang menonjol bukan daftar rekam jejak, melainkan metode penyampaian yang sederhana dan aplikatif.

Ia menggunakan analogi agar konsep mudah dipahami. Judul berita disebutnya sebagai “pintu”, sedangkan lead sebagai “pegangan pertama pembaca”. Pendekatan ini membuat peserta memahami struktur berita tanpa merasa terbebani teori.

Gagasan utama yang terus ia tekankan adalah jurnalisme pelajar sebagai tanggung jawab sosial. Tulisan siswa, menurutnya, memengaruhi citra sekolah sekaligus menjadi arsip sejarah lembaga.

Pandangan itu selaras dengan latar belakangnya sebagai pendidik Matematika yang menekankan ketepatan logika. Dalam menulis, prinsip tersebut berubah menjadi ketepatan makna—tulisan tidak harus panjang, tetapi harus jujur, jelas, dan berdampak.

Antusiasme peserta terlihat saat sesi praktik reportase dan teknik wawancara. Mereka aktif bertanya tentang cara mengatasi rasa gugup ketika menghadapi narasumber.

Ia menanggapi dengan simulasi percakapan sederhana. Metode demonstratif itu membuat peserta lebih berani mencoba dan memahami alur wawancara secara langsung.

Dampak pelatihan mulai terlihat pada pola kerja tim jurnalistik pelajar. Mereka menyusun pembagian peran—penulis, editor, dan dokumentator—serta menerapkan verifikasi sumber sebelum menulis.

Standar redaksi sederhana juga mulai disusun. Setiap berita diwajibkan memiliki angle, kutipan narasumber, dan tujuan yang jelas.

Perubahan ini memperkuat posisi Andi Budi Setiawan sebagai trainer jurnalisme pelajar yang tidak hanya menyampaikan materi, tetapi membangun sistem literasi sekolah. Jurnalisme ditempatkan sebagai ruang kaderisasi penulis muda.

Pendekatan tersebut relevan dengan kebutuhan pelajar di era publikasi cepat. Ia menekankan pentingnya berita populer yang tetap beretika dan terverifikasi agar media sekolah menjadi kredibel.

Di akhir sesi, ia kembali melempar pertanyaan pemantik lalu memberi jeda refleksi. Jeda itu mengajarkan bahwa berpikir adalah bagian dari proses menulis.

Ketika kelas mulai lengang, beberapa siswa masih mendiskusikan ide berita mereka. Ia tetap berada di tengah mereka, memberi saran singkat seperti mentor yang hadir, bukan sekadar pembicara.

“Cari maknanya, baru tulis beritanya,” katanya.

Kalimat itu merangkum filosofi yang ia bawa: menulis sebagai latihan integritas dan berita sebagai arsip sejarah sekolah. Dari ruang kelas sederhana itu, jurnalisme pelajar tumbuh menjadi proses pembentukan karakter.

Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini menunjukkan bahwa literasi dapat menjadi gerakan kolektif. Setiap siswa memiliki peran untuk menulis dengan jujur, memverifikasi fakta, dan menyebarkan informasi yang bermakna.

 

Mari dukung ruang-ruang literasi di sekolah. Karena dari satu tulisan yang jujur, lahir kesadaran baru, dan dari kesadaran itu tumbuh peradaban kecil yang kelak memberi dampak besar.

Scroll to Top