Banyak orang ingin menulis cerpen, tetapi berhenti di paragraf pertama. Bukan karena tidak punya ide, melainkan karena bingung harus melangkah ke mana setelah kalimat pembuka. Cerita terasa buntu, tokoh kehilangan arah, dan semangat pelan-pelan padam sebelum kisah benar-benar dimulai.
Padahal, menulis cerpen bukan perkara menunggu ilham besar. Cerpen justru tumbuh dari pengalaman sehari-hari yang direncanakan, diolah, dan diselesaikan dengan sadar. Dalam sebuah kelas menulis yang dipandu oleh Khrisna Pabichara—penulis yang lama bergelut di dunia sastra dan perbukuan—satu hal ditekankan dengan lugas: cerpen itu bisa dan perlu direncanakan. Artikel ini mengajak penulis pemula melihat cerpen sebagai sesuatu yang dekat, mungkin, dan bisa dikerjakan langkah demi langkah.
Cerpen: Pendek, Tapi Tidak Sepele
Cerita pendek, sebagaimana namanya, memang tidak panjang—umumnya di bawah 10.000 kata. Namun, kependekan itu justru menuntut ketepatan. Cerpen berpusat pada satu tokoh utama, terjadi dalam satu peristiwa, dan menghadirkan satu kesan dominan.
Artinya, cerpen tidak membutuhkan dunia yang terlalu luas. Ia hanya membutuhkan pengalaman yang fokus dan pengisahan yang terarah. Di sinilah banyak penulis pemula tersandung: ingin memasukkan terlalu banyak hal sekaligus.
Dari Mana Cerita Datang? Dari Pengalaman
Pengalaman adalah sumur ide paling dekat. Tidak harus pengalaman besar atau dramatis. Justru pengalaman kecil sering menyimpan konflik yang paling manusiawi. Pengalaman itu bisa bersifat fisik—apa yang dilihat, didengar, dialami secara langsung. Bisa juga nonfisik—ingatan, mimpi, kecemasan, atau angan-angan. Yang penting, pengalaman tersebut meninggalkan jejak emosi.
Namun, tidak semua pengalaman layak dijadikan cerita. Pengalaman yang baik untuk cerpen biasanya memiliki salah satu dari tiga sifat ini: aneh, mendebarkan, atau menyentuh emosi. Dari situlah cerita mulai menemukan nyawanya.
Enam Langkah Mudah Menulis Cerpen
Agar ide tidak hanya berputar di kepala, berikut enam langkah sederhana menulis cerpen yang kerap dipraktikkan dalam kelas menulis.
1. Ingat Peristiwa
Mulailah dengan mengingat satu peristiwa yang pernah dialami atau disaksikan. Pilih peristiwa yang mungkin juga menarik bagi pembaca lintas usia. Peristiwa yang menyimpan nilai inspiratif atau kemanusiaan biasanya lebih mudah diterima. Contoh: seorang anak yang diam saat diminta maju ke depan kelas.
2.Pilah Peristiwa
Dari peristiwa itu, pilah bagian yang paling penting. Cerpen tidak memerlukan semua detail. Yang dibutuhkan adalah konflik atau ketegangan yang membuat pembaca ingin terus membaca. Tanya sederhana: di mana letak persoalannya?
3. Susun Peristiwa
Susun peristiwa menjadi kerangka cerita. Tidak harus rumit. Cukup tentukan awal, tengah, dan akhir. Pada tahap ini, imajinasi mulai bekerja: peristiwa nyata boleh diolah, dipadatkan, atau dibelokkan agar lebih kuat secara dramatik.
4. Tulis Cerita
Saat menulis draf pertama, tulis saja dulu. Jangan berhenti untuk menyunting. Banyak cerpen gagal selesai karena penulis terlalu sibuk memperbaiki kalimat sebelum cerita rampung. Contoh potongan adegan: Ketika namanya disebut, ia menunduk. Kapur tulis jatuh dari genggaman guru. Kelas mendadak sunyi, seperti menunggu sesuatu yang tak pernah datang.
5. Edit Cerita
Setelah draf selesai, beri jarak waktu. Endapkan cerita beberapa hari, lalu baca ulang dengan kepala lebih dingin. Periksa alur, tokoh, dan bahasa. Apakah cerita mengalir? Apakah kesan dominannya terasa?
6. Bagi Cerita
Cerita yang selesai perlu dibagikan—entah di blog pribadi, media sastra, atau komunitas menulis. Cerpen menemukan hidupnya ketika dibaca orang lain. Dari sana, penulis belajar, tumbuh, dan terus memperbaiki diri.
Cerpen sebagai Jalan Aktualisasi Diri
Menulis cerpen bukan sekadar mengejar publikasi atau honor. Ia adalah cara mengaktualisasikan diri, menyusun ulang pengalaman, dan memberi makna pada apa yang telah dilalui. Dalam cerpen, penulis tidak hanya bercerita tentang tokoh, tetapi juga tentang cara memandang hidup.
Khrisna Pabichara pernah mengibaratkan menulis seperti memotret: penulis harus memilih sudut pandang, mengatur cahaya, dan menentukan titik fokus. Tidak semua harus masuk ke bingkai—yang penting adalah apa yang ingin disampaikan.
Jika selama ini ide cerpenmu berhenti di kepala atau di paragraf pertama, cobalah satu hal sederhana: selesaikan ceritamu. Tidak harus sempurna. Cerita yang selesai jauh lebih berharga daripada ide yang terus ditunda.
Tantangan kecil untuk hari ini: ingat satu peristiwa → pilah konfliknya → tulis sampai akhir. Karena menjadi penulis cerpen bukan soal siapa yang paling berbakat, melainkan siapa yang berani menuntaskan ceritanya.
Andi Budi Setiawan adalah Pendidik di SMK PGRI Rogojampi, Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), Penulis Penerbit Lintang Banyuwangi dan Jurnalis Sastrawacana.id
