Perasaan itu wajar. Puisi memang sering dibayangkan sebagai sesuatu yang tinggi, rumit, dan jauh dari keseharian. Padahal, justru sebaliknya. Puisi lahir dari hal-hal yang paling dekat dengan manusia: pengalaman, ingatan, dan perasaan yang sering kita abaikan.
Menulis puisi bukan soal bakat istimewa, melainkan soal cara memandang pengalaman. Ketika cara pandang itu diubah, puisi menjadi sesuatu yang mungkin, bahkan menyenangkan.
Puisi Tidak Harus Hebat, Tapi Harus Jujur
Kesalahan paling umum penulis pemula adalah keinginan untuk terdengar indah sejak baris pertama. Akibatnya, puisi dipenuhi kata-kata besar yang terasa kosong.
Padahal, puisi tidak menuntut keindahan yang dibuat-buat. Ia menuntut kejujuran. Puisi yang baik tidak selalu rumit, tetapi tepat mengenai rasa. Ia tidak harus menjelaskan segalanya, cukup menghadirkan sesuatu yang membuat pembaca berhenti sejenak.
Puisi bisa lahir dari hari yang biasa, dari kejadian yang tampak remeh. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk memperlambat diri dan memperhatikan.
Cara Pertama: Mengubah Catatan Harian Menjadi Puisi
Setiap orang sebenarnya sudah menulis bahan puisi—hanya saja belum menyadarinya. Catatan harian, pesan singkat, atau keluhan kecil yang sering dianggap tidak penting, justru menyimpan pengalaman paling jujur.
Langkahnya sederhana.
Pertama, ingat kembali pengalaman sehari-hari yang meninggalkan kesan. Tidak perlu dramatis. Hari melelahkan, perjalanan pulang, atau percakapan singkat bisa menjadi awal.
Contoh catatan harian:
Hari ini pulang lebih sore dari biasanya. Jalan macet. Kepala penuh. Di rumah, lampu teras sudah menyala. Catatan ini belum puisi. Tetapi di dalamnya ada rasa: lelah, jarak, dan kehangatan yang ditunggu.
Kedua, pilih bagian yang paling bermakna. Bukan semua kejadian layak dijadikan puisi. Yang dicari adalah pengalaman bernilai, bukan sekadar peristiwa.
Ketiga, ubah bahasa laporan menjadi bahasa rasa. Singkirkan penjelasan berlebihan, biarkan imaji bekerja.
Contoh puisi:
Lampu teras menyala lebih dulu sebelum kakiku sampai jalan panjang hari ini kutitipkan di depan pintu Puisi ini tidak menjelaskan segalanya. Ia hanya menghadirkan suasana. Di situlah kekuatannya.
Cara Kedua: Memanggil Pengalaman yang Paling Membekas
Selain catatan harian, puisi bisa ditulis dengan cara memanggil kembali pengalaman yang paling berkesan. Bukan yang paling heboh, tetapi yang masih tinggal di ingatan. Pengalaman itu bisa berupa kebiasaan, hobi, atau momen kecil yang terus teringat tanpa alasan jelas.
Langkahnya juga tidak rumit.
Pertama, pilih satu pengalaman yang sering muncul dalam ingatan. Misalnya: duduk sendirian di pagi hari, menunggu hujan reda, atau suara tertentu yang selalu mengingatkan pada seseorang.
Kedua, identifikasi perasaan utama dari pengalaman itu. Apakah tenang, kehilangan, rindu, atau pasrah?
Ketiga, tuliskan pengalaman tersebut tanpa niat menjadi indah. Fokus pada suasana.
Contoh puisi:
Setiap pagi aku menunggu air mendidih seperti menunggu kabar yang tak pernah benar-benar datang Puisi ini lahir dari pengalaman sederhana. Tidak ada metafora rumit, tetapi ada ruang bagi pembaca untuk masuk dan merasakan.
Mengapa Puisi Terasa “Tidak Puitis”?
Sering kali puisi terasa datar bukan karena idenya kurang, tetapi karena terlalu banyak menjelaskan. Puisi tidak bekerja seperti cerpen atau esai. Ia tidak harus lengkap. Justru ketidaksempurnaan itulah yang memberi ruang bagi pembaca. Puisi juga tidak harus panjang. Satu bait pendek bisa lebih kuat daripada halaman penuh kata indah. Yang terpenting, puisi tidak ditulis untuk mengesankan orang lain, tetapi untuk mengendapkan pengalaman.
Puisi sebagai Kebiasaan Kecil Sehari-hari
Menulis puisi tidak harus menunggu suasana khusus. Ia bisa menjadi kebiasaan kecil: menulis satu bait sebelum tidur, mencatat satu larik setelah pulang kerja, atau menyimpan satu perasaan setiap hari. Puisi tidak selalu selesai sekali tulis. Ia boleh direvisi, dipadatkan, bahkan dibiarkan sebentar hingga waktunya matang. Semakin sering menulis, semakin peka kita terhadap pengalaman. Dan semakin peka, puisi akan datang dengan sendirinya.
Tantangan Kecil untuk Pembaca
Sebagai penutup, cobalah tantangan sederhana ini: Hari ini, pilih satu pengalaman paling biasa yang kamu alami. Tuliskan dalam tiga baris puisi. Tidak perlu indah. Tidak perlu menjelaskan. Cukup jujur. Karena puisi bukan soal siapa yang paling pandai merangkai kata, melainkan siapa yang berani memperhatikan hidupnya sendiri.
Andi Budi Setiawan adalah Pendidik di SMK PGRI Rogojampi, Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), Penulis Penerbit Lintang Banyuwangi dan Jurnalis Sastrawacana.id
