Di kelas, Galih adalah alasan tawa selalu menemukan jalannya. Ceritanya mengalir seperti panggung komedi kecil yang tak pernah sepi. Teman-temannya menunggu setiap kisahnya seperti menunggu punchline yang pasti meledak. Tak ada yang benar-benar tahu bahwa di balik kelucuannya, Galih menyimpan hidup yang jauh dari ringan: ayahnya buruh serabutan, ibunya mencuci pakaian tetangga, dan ia sering membantu sekadar agar dapur tetap menyala. Karena itu Galih memilih satu cara sederhana menghadapi hidup—tertawa, dan membuat orang lain ikut tertawa.
Suatu pagi, dalam perjalanan menuju tempat Praktik Kerja Lapangan, langkahnya terhenti di pom bensin. Dua orang lelaki datang, mengambil kunci motor yang ia pakai, lalu pergi tanpa banyak penjelasan. Motor itu ternyata bermasalah dengan penyewaannya. Galih hanya bisa berdiri lama di sudut pom bensin, tanpa ponsel untuk meminta bantuan. Akhirnya ia berjalan pulang sejauh dua belas kilometer di bawah matahari yang terasa lebih panas dari biasanya. Di sepanjang jalan itu, untuk pertama kalinya, senyum yang selama ini ia bagi pada orang lain tertinggal entah di mana.
Beberapa hari kemudian guru pembimbing PKL datang ke rumahnya. Mereka mendengarkan ceritanya tanpa banyak nasihat. “Hidup kadang mengambil sesuatu dari kita,” kata gurunya pelan, “tapi bukan berarti ia juga mengambil masa depanmu.” Keesokan paginya Galih kembali berangkat PKL dengan kendaraan pinjaman tetangga. Di kelas, teman-temannya kembali mendengar tawanya. Namun kali ini tawanya berbeda—bukan lagi sekadar hiburan. Itu adalah cara Galih memberi tahu dunia bahwa bahkan setelah kehilangan banyak hal, ia masih memilih untuk tidak kalah.
Rogojampi, 26 Maret 2026 - Di Meja Kerja - Andi Budi Setiawan
