MENJAGA PANTUN USING TETAP HIDUP – JEJAK LITERASI ANDI BUDI SETIAWAN DARI KOMUNITAS HINGGA PERPUSTAKAAN DAERAH

Pagi itu, Selasa (10/3/2026), sekitar pukul 10.00 WIB, suasana ruang kerja di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi terasa tenang.

Tumpukan buku dan dokumen tertata rapi di meja kerja. Di kursi tamu, seorang pria duduk sambil memegang beberapa lembar berkas yang baru saja ia keluarkan dari sebuah map sederhana.

Pria itu adalah Andi Budi Setiawan. Di tangannya terdapat dokumen pengajuan ISBN untuk Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi—sebuah antologi pantun basa Using yang lahir dari kerja bersama para pegiat literasi Banyuwangi.

Di hadapannya duduk Yusup Khoiri, S.STP, selaku Pustakawan Ahli Madya. Mereka berbincang santai namun serius tentang satu hal yang sama: bagaimana memastikan karya tersebut dapat tercatat secara resmi sebagai bagian dari khazanah literasi daerah.

Percakapan mereka pagi itu bukan sekadar urusan administrasi penerbitan. Di baliknya, ada semangat untuk menjaga satu warisan budaya Banyuwangi tetap hidup—pantun berbahasa Using.

Sebagai Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), Andi dikenal aktif menggerakkan kegiatan literasi di Banyuwangi. Ia sering mengajak guru, pegiat literasi, hingga masyarakat umum untuk menulis dan mendokumentasikan kekayaan budaya daerah.

Antologi Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi menjadi salah satu wujud dari gerakan tersebut. Buku ini memuat 48 pantun karya 34 penulis dari berbagai latar belakang. Ada guru bahasa Using, anggota komunitas literasi, hingga pegiat budaya yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian bahasa daerah.

Keragaman penulis itu justru menjadi kekuatan utama buku ini. Bahasa Using tidak hanya hidup di ruang kelas atau panggung seni, tetapi juga dalam karya tulis yang lahir dari tangan masyarakat sendiri.

Secara tematik, pantun-pantun dalam antologi ini mengangkat berbagai sisi kehidupan Banyuwangi. Mulai dari seni dan pertunjukan, ritual dan tradisi, arsitektur dan tata ruang, kuliner khas daerah, hingga hubungan manusia dengan alam.

“Pantun adalah cara sederhana untuk merekam budaya,” ujar Andi dalam perbincangan itu. “Lewat pantun, kita bisa bercerita tentang Banyuwangi dengan bahasa kita sendiri.”

Namun bagi Andi, perjalanan buku ini tidak berhenti pada publikasi digital. Dalam pertemuan tersebut, ia juga membahas kemungkinan pengajuan ISBN ke Perpustakaan Nasional agar karya tersebut memiliki pencatatan resmi sebagai buku.

Menanggapi hal itu, Yusup Khoiri menjelaskan bahwa tidak semua karya tulis dapat langsung diajukan untuk mendapatkan ISBN. Ada sejumlah ketentuan yang harus dipenuhi sebelum karya tersebut dapat diproses secara resmi.

“Karya yang bisa diajukan ISBN, baik dalam bentuk PDF maupun cetak, harus sesuai dengan ketentuan Perpustakaan Nasional. Karya tulis yang merupakan produk pembelajaran tidak bisa diajukan ISBN. Jika tidak memenuhi syarat, maka tetap bisa dipublikasikan melalui platform ebook Banyuwangi,” jelasnya.

Penjelasan itu disimak Andi dengan saksama. Sesekali ia membuka kembali berkas yang dibawanya, memastikan dokumen pengajuan sudah sesuai dengan ketentuan.

Bagi seorang pegiat literasi seperti Andi, setiap karya yang terbit adalah langkah kecil untuk memperkaya khazanah literasi daerah.

Ia kemudian menceritakan bahwa Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi bukanlah karya pertama yang lahir dari kolaborasi komunitas literasi dengan Dispusip Banyuwangi.

“Tandang Bareng Mbangun Banyuwangi merupakan ebook ketiga yang dirilis Dispusip Banyuwangi,” ujarnya. “Sebelumnya ada Marhaban Ya Ramadan, antologi pantun, puisi, dan quote Ramadan, serta Sajak Merah Putih, antologi puisi bertema pahlawan.”

Melalui karya-karya tersebut, Andi dan komunitasnya ingin menunjukkan bahwa literasi tidak harus lahir dari ruang akademik yang kaku. Ia bisa tumbuh dari komunitas, dari percakapan sederhana, bahkan dari kecintaan terhadap bahasa daerah.

Bagi Andi, literasi adalah gerakan bersama. Ia percaya kolaborasi antara komunitas literasi dan lembaga pemerintah menjadi salah satu cara terbaik untuk menjaga keberlanjutan budaya melalui tulisan.

Karena itu, ia terus mengajak masyarakat Banyuwangi untuk membaca, menulis, dan mendokumentasikan kekayaan budaya daerah.

Menjelang akhir pertemuan, Andi merapikan kembali dokumen yang dibawanya. Percakapan mereka pagi itu mungkin terlihat sederhana, tetapi maknanya jauh lebih besar.

“Kalau bahasa daerah tidak kita tulis, lama-lama bisa hilang,” katanya pelan. “Lewat pantun-pantun ini, kita sedang menjaga ingatan Banyuwangi.”

Di luar ruangan, aktivitas perpustakaan berjalan seperti biasa. Namun dari percakapan sederhana di ruang kerja itu, satu langkah kecil untuk merawat budaya Banyuwangi kembali dimulai.

Scroll to Top