/1/
Sore itu... Langit tak seperti biasanya, nampak begitu indah – seindah sosok berparas cantik dimana kecantikannya tak tergerus oleh waktu dan termakan oleh usia – dialah sosok manusia yang berhati mulia
Nampak ranum nan hijau daun – daun kasih sayang yang melekat erat pada ranting hati yang kokoh berdiri, meski jaman silih berganti laksana roda kereta yang berputar tak tahu kapan saatnya berhenti, namun korelasi rasa itu nyata
Masih utuh tiada tersentuh doa – doa suci yang selalu ia dipanjatkan untuk kehidupan sang buah hati agar bisa tumbuh – berkembang, seiring perkembangan jaman; menata masa depan untuk secercah harapan setinggi nabastala
Dari rahim suci sang buah hati terlahir dalam genangan rudira dan balutan retisalya; tak mengenal rupa atau pusaka, menangis histeris diatas bentala tua tempat berpijak dengan sentosa
/2/
Sore itu… langkah kakimu terdengar ringan sekali.
Mungkin karena engkau terlihat ringkih atau tubuhmu yang tak lagi seperti dulu, namun semangatmu untuk hidup masih membara bagai nyala obor olimpiade yang tak pernah padam – menyala abadi
Hanya untuk melihat senyum sang buah hati, melihatnya mulai merangkak; belajar untuk berjalan; berlari menuju hari-hari yang tak kunjung berhenti; melihatnya menggapai asa setinggi lazuardi dengan tonggak bestari
Pengorbananmu laksana lilin sebagai lentera; memberikan cahayanya untuk mahluk yang ada disekitarnya dengan mengorbankan dirinya – sirna raga dan jiwa tertelan oleh kejamnya waktu yang menggerogoti
Perjuanganmu tak mengenal lelah, biar panas menyeka kedua kakimu engkau terus berjalan menyisiri jalan untuk secuil rejeki – biar pun hujan deras menghujam sekujur tubuhmu engkau tetap berdiri menanti rejeki datang menghampiri untuk sang buah hati
/3/
“Ibu” itu namanya… sosok purwa rupa yang mampu merubuah wujudnya.
Merubah diri menjadi malaikat tanpa sayap dengan kekuatan saktinya melindungi sang buah hati lewat lantunan doa-doa suci
Merubah diri menjadi sosok dewa penolong yang selalu ada menjadi penolong sang buah hati baik saat suka atau duka
Merubah diri menjadi sosok ayah yang menjadi figur dalam kehidupan; simbul keberanian dan tanggung jawab untuk anak-anaknya
Ibu adalah sosok guru sejak dalam kandungan hingga menjelang kematian; selalu menuntun kodrat anak-anaknya menuju puncak kebahagiaan tertinggi
/4/
Kini usiamu tidak muda lagi… semakin senja.
Sudah saatnya engkau diam – melihat semuanya dari balik pintu peraduan
Turunkan tangan dan kakimu sejenak untuk rehat dari kerasnya kehidupan yang engkau jalani, rebahkanlah tubuhmu sejenak diatas kursi itu – dulu tubuh itu yang menopang diri ini dari gelapnya kebodohan menuju akal yang berbudi
Tenangkanlah pikiranmu dari beban yang selama ini menyelimuti. Damaikanlah hatimu dari kekhawatiran dan perasaan was-was akan masa depan.
Biarkan tangan-tangan semesta berjalan seiring algoritma kehidupan Kini…
Engkau bisa melihat jawaban atas doa – doamu; siang malam yang kau panjatkan kepada Tuhan untuk kesehatan, keberkahan dan keselamatan anak-anakmu.
Kini engkau bisa tersenyum lepas melihat mereka tumbuh besar bersama keluarga, anak serta cucunya.
Kini engkau bisa bernafas lega dan merelakan semua berjalan atas kehendakNya… sebelum engkau benar-benar pergi menuju peraduan abadi.
Januari 2022 - Andi Budi Setiawan
Antologi Sebait Doa Untuk Ibu
