Langit masih gelap, meski pagi telah menyapa ruang
Hawa dingin tak jadi penghalang untuk mereka datang berdagang
Langkah kaki lalu lalang datang bak bunyi genderang perang
Di kanan-kiri berjajar lapak dengan sinar lampu sebagai penerang
Mereka beradu cepat menata barang dagang, untuk menarik perhatian orang
Menghadang pembeli yang datang dengan segenggam uang
Untuk ditukar dengan sekarung nasi dan seikat bawang
Langit masih nampak gelap meski hitamnya berangsur memudar
Ditengah hiruk-pikuk suasana subuh; udara masih terasa segar
Kerumunan langkah semakin ramai terdengar
Hingar bingar pedagang berlomba-lomba menawarkan bermacam sayuran, ikan dan buah-buahan
Lantunan sajak rayuan gombal sang pedagang:
“Silahkan, Bu! Ada Tribang dan Udang yang masih segar.”
Tanpa basa-basi sang ibu pun membeli tanpa tawar-menawar
Meski aroma anyir menyengat dengan kaki sedikit kotor dibalut lumpur sisa hujan semalam. Di pojok lapak usang itu mereka tertawa bersama.
Para pedagang itu sangat senang kantongnya penuh berisi uang
Dari seikat sayur ia dapatkan untung berulang-ulang
Dari sepotong daging ia dapatkan untung yang menjulang
Sedikit demi sedikit mampu untuk menutup hutang
Selangkah demi selangkah mampu melewati jalan terang
Pasar tradisional surga bagi pencari rejeki dengan seribu peluang
Pasar tradisional menawarkan sejuta cerita
Cerita tentang penjual gorengan dengan pelanggan tuna rungunya
Cerita tentang penjual jajanan dengan pelanggan tuna netranya
Cerita tentang penjual nasi dengan pelanggan tuna daksanya
Cerita tentang pembeli dengan sepenggal tujuan
Berharap sesuatu mereka inginkan terpaut dalam genggaman
Pasar Tradisional surga bagi penikmat kopi dan sebungkus ketan.
Andi Budi Setiawan
Buku Sajak Tanah Belambangan – Sepenggal Cerita Dari Ujung Timur Pulang Jawa
