Baru kali ini aku merasakan pahit getirnya menjadi seorang pengamen. Sebelumnya, yang kulihat hanyalah sisi menyenangkannya: bernyanyi sambil memainkan gitar tua, berjalan dari satu tempat ke tempat lain, seolah hidup bebas tanpa beban. Setelah lagu selesai, receh jatuh ke tangan. Lima ratus rupiah, seribu rupiah, kadang lebih. Terlihat sederhana, bahkan menyenangkan.
Pagi itu aku dan Taka membawa gitar tua dan ecek-ecek. Kami berangkat ke stasiun dengan niat menumpang kereta menuju tempat “konser jalanan” pertama kami. Namun niat itu kandas. Kondektur mengusir kami sebelum sempat naik.
“Pengamen dilarang masuk.”
Kami turun dengan wajah panas. Aku tertawa kecil menutupi malu, tetapi di dalam dada ada sesuatu yang terasa runtuh—seperti harga diri yang baru saja dipukul tanpa sempat melawan.
Perjalanan kami lanjutkan dengan angkutan umum menuju Parijatah. Taka berjalan paling depan sambil memeluk gitar. Seminggu lalu ia terkena PHK. Sejak itu ia lebih banyak diam. Katanya, ia hanya ingin makan tanpa harus merepotkan saudaranya. Aku baru tahu pagi itu: ia sudah dua hari tidak makan.
Langkah pertama mengamen terasa canggung. Di rumah pertama, pintu dibuka sedikit lalu ditutup kembali sebelum kami sempat bernyanyi. Di rumah kedua, seorang bapak berkata, “Masih muda kok ngamen. Cari kerja yang benar.”
Aku menelan ludah. Ternyata suara orang bisa lebih tajam daripada senar gitar.
Kami terus berjalan. Matahari semakin tinggi. Keringat mengalir di pelipis. Receh yang terkumpul bahkan belum cukup untuk membeli air minum. Perutku melilit, tetapi aku berpura-pura kuat.
Di sebuah gang sempit, Taka berhenti.
“Aku lapar,” katanya pelan.
Wajahnya pucat. Tangannya gemetar saat memetik gitar. Suara yang keluar sumbang, seperti menahan tangis yang tidak ingin ia tunjukkan.
“Kalau hari ini gagal, aku tidak tahu harus makan apa,” ucapnya.
Aku terdiam. Untuk pertama kalinya aku tidak merasa ini permainan. Ini bukan latihan mental. Ini bukan sekadar pengalaman. Ini tentang seseorang yang sedang berusaha bertahan hidup di depanku.
Kami bangkit lagi. Di sebuah rumah sederhana, kami mulai bernyanyi. Suaraku bergetar. Baru setengah lagu, pintu terbuka keras.
“Jangan berisik!”
Tanganku salah menekan senar.
Tring!
Satu senar gitar putus.
Taka menatap gitarnya lama. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia tetap tersenyum.
“Masih bisa dipakai,” katanya.
Kami berjalan lagi dengan gitar yang pincang. Di ujung jalan, seorang anak kecil duduk di teras rumah. Ia mendengarkan kami sampai lagu selesai, lalu masuk dan kembali membawa uang seribu rupiah.
“Ini buat beli makan,” katanya.
Taka menerimanya dengan kedua tangan. Tangannya bergetar.
Kami membeli nasi bungkus di warung kecil. Aku memperhatikan Taka makan perlahan, seolah takut nasi itu habis terlalu cepat. Setelah beberapa suap, ia berhenti.
“Kamu makan dulu,” katanya, menyodorkan setengah bungkus kepadaku.
Aku menggeleng. Ia tersenyum, tetapi senyum itu berbeda—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kelaparan.
Tiba-tiba sendok di tangannya jatuh. Tubuhnya terkulai ke samping.
“Taka!”
Aku panik. Wajahnya pucat, matanya terpejam. Orang-orang berdatangan. Seorang bapak membantu membaringkannya di bangku.
“Kurang makan ini,” kata seseorang.
Aku menggenggam tangannya yang dingin. Di lantai, gitar tuanya tergeletak—senarnya tinggal tiga.
Beberapa menit kemudian Taka membuka mata. Ia menatapku dan tersenyum lemah.
“Lumayan… hari ini kita dapat makan,” bisiknya.
Itu kalimat terakhir yang kudengar darinya sebelum ia kembali memejamkan mata.
Kami membawanya ke puskesmas terdekat. Kata petugas, ia hanya pingsan karena kelelahan dan kurang makan. Aku lega—setidaknya ia masih bernapas. Namun hari itu mengubah sesuatu di dalam diriku selamanya.
*****
Beberapa bulan kemudian, aku kembali melewati jalan yang sama. Kali ini aku tidak membawa gitar. Aku sudah bekerja di sebuah toko kecil. Hidupku tidak mewah, tetapi cukup.
Di ujung jalan, aku melihat seorang pengamen bernyanyi dengan gitar tua yang senarnya tinggal tiga. Suaranya sumbang, tetapi penuh perasaan. Orang-orang lewat tanpa peduli.
Aku berdiri lama memandanginya.
Gitar itu… aku mengenalnya.
Bekas goresan di bagian bawah, stiker yang hampir terkelupas—itu gitar milik Taka.
Aku mendekat. Pengamen itu menunduk. Ketika ia mengangkat wajahnya, jantungku seperti berhenti.
Itu aku.
Tiba-tiba aku tersadar: sejak hari Taka pingsan, aku memang bekerja di toko. Namun setiap sore, tanpa pernah kuceritakan kepada siapa pun, aku selalu membawa gitar tuanya dan mengamen di jalan yang sama.
Bukan karena aku tidak punya uang.
Bukan karena aku lapar.
Tetapi karena aku tidak ingin gitar itu berhenti berbunyi.
Karena setiap senar yang tersisa mengingatkanku bahwa dulu ada seseorang yang berjuang hanya untuk makan satu bungkus nasi—dan tetap membaginya kepadaku.
Sejak saat itu aku mengerti: aku tidak sedang mengamen untuk mencari uang.
Aku sedang menjaga agar perjuangan Taka tetap hidup—di setiap lagu yang kunyanyikan, di setiap pintu yang tertutup, di setiap receh yang jatuh ke tangan.
Dan setiap kali orang memandangku sebelah mata, aku hanya tersenyum.
Sebab aku tahu, gitar tua ini bukan tanda kemiskinan.
Ia adalah tanda bahwa pernah ada seseorang yang mengajarkanku arti bertahan hidup—dengan senar yang hampir putus, tetapi tidak pernah benar-benar berhenti berbunyi.
