KETIKA MENULIS MENJADI JALAN KHIDMAH

Ahad 8 Februari 2026, halaman MI Islamiyah Rogojampi sudah mulai ramai sejak matahari belum sepenuhnya naik. Beberapa peserta tampak membawa laptop, sebagian lain menggenggam ponsel sambil saling menyapa. Di antara hiruk-pikuk persiapan Lokakarya Jurnalistik Digital NU, seorang pria duduk tenang di deretan depan. Ia membuka catatan kecil, sesekali menatap ruangan, seolah menimbang satu hal penting: bagaimana kabar-kabar kecil NU bisa tetap hidup dan bermakna di tengah derasnya arus digital.

Pria itu adalah Andi Budi Setiawan, jurnalis Sastrawacana.id, yang hari itu hadir bukan sekadar sebagai pemateri, tetapi sebagai pengingat: bahwa menulis di media NU bukan soal kecanggihan teknologi, melainkan soal niat, kejujuran, dan tanggung jawab moral.

Lokakarya yang digelar oleh MWC NU Rogojampi bersama Yayasan Pendidikan Islam Ahlussunah wal Jama’ah (YPIA) Rogojampi dalam rangka Harlah ke-100 Masehi Nahdlatul Ulama memang menyoroti Artificial Intelligence sebagai alat bantu jurnalistik. Namun, suasana sesi kedua terasa berbeda. Andi tidak mengawali pemaparannya dengan istilah teknis, grafik, atau data statistik. Ia memilih membuka dengan kalimat sederhana yang perlahan mengena dan mengajak peserta untuk menyimak lebih dalam.

“Menulis kabar NU itu bukan untuk terlihat hebat, tapi untuk menjaga cerita agar tidak hilang.” Kalimat itu membuat beberapa peserta terdiam. Bagi Andi, menulis berita NU sejatinya adalah bentuk khidmah—kerja sunyi yang mungkin tak selalu disorot, tetapi berdampak panjang bagi ingatan kolektif warga Nahdliyin.

Menulis Itu Sederhana, Asal Jujur

Dalam materinya yang berjudul “Menulis Kabar NU yang Jujur, Tertib, dan Bermanfaat”, Andi mengajak peserta untuk menurunkan standar “kerumitan” dalam menulis. Ia mencontohkan pola penulisan di NU Online, yang menurutnya tidak serumit yang sering dibayangkan. “Menulis berita NU itu mirip seperti bercerita ke tetangga,” ujarnya. “Tapi ceritanya harus rapi, jelas, dan bisa dipertanggungjawabkan.”

Ia menekankan satu prinsip utama: berita harus nyata dan jelas. Yang ditulis adalah peristiwa yang benar-benar terjadi—bukan kabar dari mulut ke mulut, bukan pula asumsi yang dibungkus narasi indah. Jika ada pengajian, rapat, atau kegiatan ranting, cukup tuliskan apa adanya: siapa yang hadir, apa kegiatannya, kapan dan di mana berlangsung.

Kesederhanaan itu, menurut Andi, justru menjadi kekuatan media NU. Ia mengingatkan bahwa warga NU tidak sedang berlomba membuat sensasi, tetapi merawat kepercayaan.

Dua Gaya, Satu Tujuan

Di hadapan peserta yang mayoritas berasal dari IPNU–IPPNU, ISNU, perwakilan IT ranting, dan pengelola lembaga pendidikan, Andi menjelaskan dua gaya penulisan yang lazim digunakan di media NU: hard news dan feature.

Hard news, katanya, cocok untuk laporan kegiatan resmi: rapat, pengajian, istighotsah, atau agenda kelembagaan. Sementara feature lebih lentur, lebih bercerita—cocok untuk mengangkat kisah tokoh NU, suasana kegiatan, atau cerita inspiratif dari warga.

Namun, apa pun gayanya, Andi menegaskan satu pola dasar yang tak boleh ditinggalkan: 5W + 1H. Ia bahkan menyebutnya sebagai “pegangan hidup” penulis pemula. “Tidak perlu rumit. Cukup jawab: apa kegiatannya, siapa yang terlibat, kapan dan di mana, mengapa penting, dan bagaimana pelaksanaannya,” jelasnya. Bagi Andi, 5W + 1H bukan sekadar rumus jurnalistik, melainkan alat untuk menjaga tulisan tetap berpijak pada realitas.

Yang Layak Ditulis, dan yang Perlu Ditahan

Menariknya, Andi tidak hanya berbicara soal apa yang bisa ditulis, tetapi juga apa yang sebaiknya tidak dirilis. Ia menyebutkan banyak hal di tingkat ranting NU yang sebenarnya sangat layak diberitakan: kegiatan keagamaan, pendidikan, literasi, sosial, hingga tradisi dan budaya NU. “Setiap ranting punya cerita penting,” katanya. “Dan setiap cerita layak ditulis dengan niat baik.” Namun, ia mengingatkan agar media NU tidak tergelincir pada kabar yang belum jelas, isu sensitif, atau tulisan yang bernada menyudutkan. Menurutnya, godaan terbesar di era digital bukan kekurangan informasi, melainkan kelebihan emosi.

“Kalau ragu, tanyakan pada diri sendiri,” ujar Andi, mengutip prinsip sederhana,

“Apakah tulisan ini membawa manfaat dan ketenangan bagi warga NU?”

Ia juga menegaskan bahaya praktik salin-tempel tanpa verifikasi. Bagi Andi, copy–paste bukan hanya persoalan etika, tetapi juga ancaman bagi marwah NU sebagai jam’iyyah yang menjunjung amanah.

Menulis untuk Merawat, Bukan Mencari Nama

Di akhir sesi, Andi memberi tugas sederhana namun bermakna: peserta diminta menulis berita tentang kegiatan di lingkungan masing-masing dan dikumpulkan dalam waktu 1x24 jam. Bukan untuk dinilai siapa yang paling bagus, tetapi untuk melatih keberanian menulis dan bertanggung jawab pada kata-kata sendiri.

Salah satu peserta mengaku, materi yang diberikan membuatnya lebih percaya diri. “Selama ini saya takut menulis karena merasa tidak bisa,” ujarnya. “Ternyata menulis itu soal niat dan kejujuran.”

Bagi Andi Budi Setiawan, itulah inti dari jurnalistik NU. Menulis bukan untuk menjadi wartawan besar, bukan pula untuk mengejar popularitas. Menulis adalah ikhtiar kecil untuk merawat cerita, menjaga khidmah, dan menyebarkan kebaikan.

Di tengah kemajuan Artificial Intelligence yang kian canggih, pesan Andi terasa semakin relevan. Teknologi boleh membantu mempercepat proses, tetapi nurani manusialah yang menentukan arah. Selama kata-kata ditulis dengan niat baik dan tanggung jawab, kabar NU akan tetap hidup—tenang, jujur, dan memberi manfaat.

Dan di ruangan sederhana MI Islamiyah Rogojampi siang itu, para peserta pulang bukan hanya membawa catatan, tetapi juga kesadaran baru: bahwa menulis adalah bagian dari ibadah sosial, dan setiap tulisan adalah jejak khidmah yang kelak dipertanggungjawabkan.

Scroll to Top