Seratus tahun bukan sekadar angka bagi Nahdlatul Ulama. Ia adalah jejak panjang pengabdian, adab, dan ikhtiar merawat peradaban. Di usia satu abad itulah, NU terus bergerak—menyapa zaman, merawat tradisi, dan meneguhkan khidmah. Salah satu ikhtiar yang tumbuh di tengah perjalanan itu adalah literasi: menulis, mendokumentasikan, dan menyebarkan kabar kebaikan dengan penuh tanggung jawab.
Bagi Andi Budi Setiawan, literasi bukan hanya aktivitas intelektual, melainkan jalan menjaga kewarasan dan kesadaran. Pandemi Covid-19 menjadi titik balik yang sunyi sekaligus menentukan. Ketika ruang gerak menyempit dan aktivitas berpindah ke rumah, ia memilih menulis. “Agar pikiran dan hati tetap hidup, tetap waras, dan tetap bermanfaat,” tuturnya. Dari momen itulah, sejak 2023, menulis menjadi laku yang ia jalani dengan kesungguhan.
Hari ini, Andi menjalani banyak peran: pendidik di SMK PGRI Rogojampi, jurnalis Sastrawacana.id, penulis di Penerbit Lintang Banyuwangi, pengelola media Penapanuluh.com dan Mwcnurogojampi.com, serta Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI). Namun, baginya, identitas tidak ditentukan oleh deretan jabatan, melainkan oleh karya dan kebermanfaatannya. Ia memilih hadir lewat tulisan—berita, opini, artikel, buku—serta praktik baik yang tumbuh di sekolah, komunitas, dan organisasi.
Fokusnya konsisten pada pendidikan dan literasi. Ia percaya bahwa praktik baik yang dijalankan tidak cukup berhenti di ruang kegiatan. Ia perlu dicatat, diceritakan, dan dibagikan. “Agar menjadi inspirasi, agar menjadi syiar, agar memberi dampak,” katanya. Di titik ini, jurnalistik baginya bukan sekadar melaporkan peristiwa, melainkan merawat makna.
Andi memandang literasi memiliki tiga fungsi utama: memberi pencerahan (enlightenment), memperkaya pemikiran (enrichment), dan memberdayakan (empowerment). Literasi membuka ruang kesadaran baru—mengajak manusia membaca realitas dengan jernih dan bijaksana. Ia meyakini, semakin banyak seseorang membaca dan menulis, semakin luas pengetahuannya, dan semakin kecil dorongan untuk saling menyalahkan. Dari sanalah, literasi menjadi modal dasar kemajuan masyarakat.
Perjalanan intelektual dan literasinya tak bisa dilepaskan dari NU. Baginya, NU adalah ruang pembentukan nilai dan nalar. Di dalamnya, ilmu berjalan seiring adab, dan pengetahuan selalu diarahkan pada khidmah. Literasi dimaknai sebagai upaya memahami realitas dengan kebijaksanaan, menjaga tradisi, sekaligus terbuka pada perubahan. Bukan untuk prestasi personal, tetapi untuk pengabdian.
Dalam menulis, nilai tawassuth dan adab menjadi pegangan utama. Moderat dalam gagasan, berimbang dalam sudut pandang, serta bertanggung jawab atas setiap kata. Ia melihat pentingnya NU mengelola jurnalistik dan dokumentasi digital secara serius dan profesional—agar kerja-kerja khidmah warga NU terdokumentasi dengan baik, tidak hilang, tidak disalahpahami, dan mampu melawan arus disinformasi. Terlebih di era digital, narasi Islam moderat perlu disampaikan dengan bahasa yang akurat, menenangkan, dan relevan lintas platform.
Di momentum HARLAH NU ke-100 Masehi, ikhtiar tersebut menemukan relevansinya. Seabad NU adalah warisan, tetapi juga amanah. Menulis menjadi salah satu cara merawat ingatan kolektif dan menyiapkan masa depan. Karena itu, keterlibatan Andi dalam Lokakarya Jurnalistik Digital NU ia niatkan sebagai ruang berbagi—berbagi ilmu, pengalaman, dan praktik baik. Pesannya sederhana: menulis itu mudah, dan tulisan bisa menjadi ladang amal. Berita bisa menjadi sarana dakwah yang positif—jujur, tertib, dan bermanfaat.
Menulis, baginya, adalah passion sekaligus pengabdian sosial yang bernilai ibadah. Pernah ada keraguan, namun niat yang jelas membuatnya tetap melangkah. Ia membayangkan, lima hingga sepuluh tahun ke depan, jurnalistik NU tumbuh semakin profesional, kolaboratif, dan berbasis digital—dikelola kader terlatih, berjejaring lintas lembaga, dan menjadi rujukan informasi yang kredibel.
“Semoga jurnalistik NU terus menjadi ruang khidmah yang mencerahkan,” harapnya. Menulis dengan adab, mendokumentasikan dengan amanah, dan menyebarkan nilai Islam yang meneduhkan—sebagai ikhtiar kecil merawat NU di usia seabad, dan menyiapkan langkah menuju abad berikutnya.
