PENDIDIKAN YANG BERPIHAK PADA RASA: JALAN SUNYI MENUJU SISWA YANG MANDIRI

Dalam praktik pendidikan sehari-hari, sering kali peserta didik diperlakukan seperti objek: target nilai, angka kelulusan, atau bahkan komoditas sistem. Padahal, pada hakikatnya peserta didik adalah manusia utuh—makhluk yang berpikir, merasa, dan bertumbuh. Kesadaran inilah yang menjadi fondasi penting dalam paradigma baru pendidikan: pendidikan yang memanusiakan manusia.

Sejalan dengan semangat Merdeka Belajar, pembelajaran hari ini seharusnya berpihak pada siswa. Bukan lagi guru sebagai pusat, melainkan siswa sebagai subjek utama pembelajaran. Namun, keberpihakan ini bukan berarti membiarkan segalanya tanpa arah. Di sinilah pembelajaran berdiferensiasi menemukan maknanya—bukan sekadar strategi teknis, melainkan kesadaran pedagogis.

Diferensiasi Dimulai dari Empati

Pembelajaran berdiferensiasi tidak bisa dilepaskan dari empati. Guru perlu memahami bahwa setiap siswa datang ke kelas dengan latar belakang, emosi, kesiapan, dan cara belajar yang berbeda. Empati berarti mencoba melihat dari sudut pandang siswa, merasakan apa yang mereka rasakan, dan memahami titik pijak mereka dalam belajar.

Hubungan guru dan siswa bukan hubungan transaksional, melainkan relasi kemanusiaan. Ada rasa, ada kepercayaan, dan ada ruang aman untuk bertumbuh. Dalam relasi seperti ini, siswa tidak sekadar “mengikuti”, tetapi benar-benar belajar. Menariknya, secara etimologis kata siswa berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “pengikut”, sementara murid adalah orang yang sedang mencari jalan terang. Artinya, tugas guru bukan mengendalikan, melainkan menuntun.

Mengelola Emosi melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

Salah satu tantangan terbesar siswa dalam belajar bukanlah materi, melainkan emosi: takut salah, cemas gagal, minder, atau kehilangan motivasi. Pembelajaran berdiferensiasi dalam konteks Merdeka Belajar dapat menjadi jembatan penting untuk membantu siswa mengelola emosi tersebut.

Ketika guru tidak terlalu intervensif dan memberi ruang bagi siswa untuk memilih cara belajar yang sesuai, siswa belajar bertanggung jawab atas prosesnya sendiri. Misalnya, melalui tugas kolaboratif, siswa belajar mengelola emosi saat bekerja dengan orang lain: belajar mendengar, mengemukakan pendapat, dan menyelesaikan konflik. Refleksi bersama di akhir pembelajaran juga membantu siswa mengenali perasaannya sendiri—apa yang sulit, apa yang menyenangkan, dan apa yang ingin diperbaiki.

Kemampuan refleksi inilah yang perlahan membentuk kemandirian belajar.

Diferensiasi yang Sederhana dan Membumi

Di lapangan, pembelajaran berdiferensiasi kerap terasa rumit. Diferensiasi konten, proses, produk, dan lingkungan sering kali justru membingungkan guru dan siswa. Belum lagi faktor budaya sekolah, kesiapan psikologis, serta inklusivitas yang belum sepenuhnya berjalan.

Salah satu pendekatan yang lebih sederhana adalah menerapkan prinsip zona perkembangan siswa. Guru memulai dengan asesmen awal yang jujur dan manusiawi: siapa siswa yang baru mampu menyusun kalimat, siapa yang sudah mampu menulis paragraf, dan siapa yang siap menghasilkan karya lebih kompleks. Dari sini, guru menyiapkan “arena” belajar, alat bantu, dan modal belajar yang sesuai.

Dengan cara ini, diferensiasi tidak terasa sebagai beban administrasi, melainkan bagian alami dari proses mendampingi siswa bertumbuh setahap demi setahap.

Merdeka Bukan Berarti Tanpa Batas

Di sisi lain, Merdeka Belajar juga kerap disalahpahami sebagai budaya serba boleh. Guru menjadi ragu menegur, khawatir memberi sanksi, dan akhirnya memilih aman: mengajar sekadarnya, tanpa mendidik secara utuh.

Padahal, jika merujuk pada gagasan Ki Hajar Dewantara, kemerdekaan memiliki level. Pada tahap awal, siswa dibimbing dan disadarkan. Pada tahap berikutnya, siswa diberi keterampilan untuk berkembang. Hingga akhirnya, siswa mampu mengembangkan dirinya sendiri. Inilah makna manusia merdeka: berdaulat atas diri sendiri, bukan bebas tanpa arah.

Mendidik adalah proses panjang yang menuntut niat, kesabaran, dan kesadaran. Tidak ada lompatan instan. Yang ada adalah langkah-langkah kecil yang konsisten: mendampingi, memahami, dan memberi ruang bagi siswa untuk bertumbuh.

Jika pendidikan dijalankan dengan empati, refleksi, dan keberpihakan pada kemanusiaan, maka pembelajaran tidak hanya mencetak siswa yang cerdas, tetapi manusia yang mandiri—secara pikiran, emosi, dan sikap.

Andi Budi Setiawan adalah Pendidik di SMK PGRI Rogojampi, Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), Penulis Penerbit Lintang Banyuwangi dan Jurnalis Sastrawacana.

 

Scroll to Top