Penulis selalu meyakini bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering guru hadir di kelas, tetapi juga oleh seberapa dalam ia mempersiapkan isi pembelajaran. Di tengah rutinitas mengajar yang padat, sering kali kita—para guru—terjebak pada pola lama: mengajar dari satu kelas ke kelas lain, dari satu materi ke materi berikutnya, tanpa sempat berhenti untuk menuliskan pengalaman dan pengetahuan yang kita miliki. Padahal, di sanalah sesungguhnya ruh pendidikan itu bersemayam.
Keresahan ini kerap penulis jumpai, khususnya di lingkungan pendidikan menengah dan kejuruan. Banyak guru yang sangat piawai menjelaskan materi secara lisan, terampil mempraktikkan keterampilan vokasional, bahkan kaya pengalaman lapangan. Namun, semua itu sering kali berhenti di ruang kelas. Tidak terdokumentasikan dalam bentuk bahan ajar yang sistematis, kontekstual, dan berkelanjutan. Akibatnya, pembelajaran berjalan, tetapi jejak keilmuannya cepat menguap.
Permasalahan ini bukan semata soal kemampuan menulis, melainkan soal budaya. Budaya mengajar yang belum sepenuhnya beriringan dengan budaya menulis. Bahan ajar masih dipahami sebatas kumpulan materi, salinan modul lama, atau ringkasan seadanya. Padahal, bahan ajar sejatinya adalah cermin keprofesionalan guru. Di sanalah terlihat bagaimana seorang guru merancang alur belajar, menyesuaikan materi dengan kebutuhan peserta didik, serta membumikan pengetahuan agar relevan dengan dunia nyata—terutama bagi siswa kejuruan yang dipersiapkan untuk dunia kerja.
Menulis bahan ajar bukan pekerjaan instan, tetapi juga bukan sesuatu yang mustahil. Justru di situlah letak keindahannya. Guru yang menulis bahan ajar sedang melakukan refleksi atas praktik mengajarnya sendiri. Ia memilih bahasa yang sederhana namun bermakna, menyusun contoh yang dekat dengan kehidupan siswa, serta menghadirkan latihan yang mendorong berpikir kritis dan terampil. Bahan ajar yang baik bukan yang tebal dan rumit, melainkan yang hidup—mudah dipahami, relevan, dan memotivasi.
Lebih dari itu, menulis bahan ajar adalah upaya memberdayakan peserta didik. Melalui bahasa yang mengalir dan struktur yang jelas, siswa tidak hanya belajar membaca, tetapi juga belajar memahami, menganalisis, dan memecahkan masalah. Di sinilah literasi bekerja: memberi pencerahan, memperkaya cara berpikir, dan menumbuhkan kemandirian belajar. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan fasilitator yang membuka jalan.
Penulis percaya, guru-guru di sekolah menengah dan kejuruan memiliki modal besar untuk menulis bahan ajar berkualitas. Pengalaman mengajar, interaksi dengan siswa, hingga dinamika dunia industri adalah sumber gagasan yang sangat kaya. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memulai dan konsistensi untuk melanjutkan. Menulis bahan ajar bukan sekadar tugas administratif, melainkan investasi intelektual—baik bagi guru maupun bagi generasi yang dididiknya.
Pada akhirnya, pendidikan akan bergerak maju jika para pendidiknya mau melangkah satu tingkat lebih jauh: dari sekadar mengajar menjadi pendidik yang menulis. Penulis mengajak para guru untuk mulai memaknai kelas bukan hanya sebagai ruang mengajar, tetapi juga sebagai laboratorium gagasan. Mari kita rawat kebiasaan menulis bahan ajar sebagai bagian dari profesionalisme dan cinta kita pada dunia pendidikan. Sebab, dari tangan guru yang menulis, lahir pembelajaran yang bermakna dan masa depan yang tercerahkan.
Andi Budi Setiawan adalah Pendidik di SMK PGRI Rogojampi, Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), Penulis Penerbit Lintang Banyuwangi dan Jurnalis Sastrawacana.
