LITERASI: BELAJAR BERPIKIR DI TENGAH DUNIA YANG TERLALU RAMAI

Di zaman ketika informasi datang bertubi-tubi tanpa diminta, literasi kerap disederhanakan menjadi sekadar kemampuan membaca dan menulis. Padahal, membaca hari ini bukan lagi perkara bisa mengeja huruf, melainkan kemampuan memilah makna. Kita hidup di era yang ironis: banjir informasi, tetapi miskin pemahaman.

Sebagai guru dan penulis, saya sering menjumpai kenyataan bahwa peserta didik—bahkan orang dewasa—membaca begitu cepat, namun dalam berpikir begitu singkat. Judul dibaca, kesimpulan diambil, emosi dikeluarkan, lalu dibagikan. Literasi pun berhenti di permukaan. Tidak sempat menyelam ke dalam, apalagi merenung setinggi gunung.

Di sinilah literasi seharusnya dimaknai ulang. Literasi bukan hanya aktivitas mata dan tangan, melainkan kerja batin dan kesadaran berpikir. Membaca bukan soal selesai atau tidak, tetapi sampai mana kita memahami, mempertanyakan, dan mengaitkan bacaan dengan realitas hidup.

Media sosial, mesin pencari, dan kecerdasan buatan telah mengubah cara manusia berinteraksi dengan teks. Segalanya serba ringkas, cepat, dan instan. Kita terbiasa membaca potongan, bukan keseluruhan. Terbiasa menyukai, bukan merenungkan. Akibatnya, literasi kehilangan kedalaman, berubah menjadi konsumsi cepat yang segera dilupakan.

Seharusnya Literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca, melainkan membuka terang dalam pikiran, memperkaya sudut pandang, dan menumbuhkan keberanian untuk mengambil peran dalam kehidupan.

Namun, menyalahkan teknologi sepenuhnya juga bukan jalan keluar. Teknologi hanyalah alat; manusialah sebagai remotenya. Tantangannya bukan pada banyaknya informasi, melainkan pada lemahnya kesadaran berpikir kritis. Di sinilah literasi berperan sebagai rem, sekaligus kompas.

Literasi yang sejati menuntut keberanian untuk berhenti sejenak. Berani tidak langsung percaya. Berani mempertanyakan sumber. Berani membaca utuh, meskipun melelahkan. Berani berbeda pendapat tanpa merasa paling benar. Literasi semacam ini tidak lahir dari hafalan definisi, tetapi dari kebiasaan berpikir. Ibarat melihat air kolam yang keruh – menunggunya dengan penuh kesadaran hingga airnya bersih kembali.

Di ruang kelas, literasi sering kali direduksi menjadi tugas merangkum, menjawab soal, atau mengejar nilai. Padahal, literasi seharusnya menjadi ruang dialog. Guru bukan sekadar penguji pemahaman teks, tetapi pendamping proses berpikir. Peserta didik perlu diberi ruang untuk menafsir, bertanya, bahkan tidak sepakat.

Saya percaya, literasi tumbuh subur bukan di ruang yang sunyi dari perbedaan, melainkan di ruang yang memberi tempat bagi keresahan. Sebab dari resah itulah lahir pencarian. Dan dari pencarian lahirlah pengetahuan yang bermakna.

Di luar sekolah, komunitas literasi memiliki peran yang tidak kalah penting. Literasi tidak harus selalu berbentuk diskusi berat atau buku tebal. Ia bisa hadir dalam obrolan santai, bedah buku kecil, menulis refleksi pribadi, sekadar membaca puisi bersama bahkan di warung kopi sekalipun dimana diskusi tumbuh dengan subur. Yang terpenting bukan formatnya, melainkan kesadarannya.

Literasi juga berkaitan erat dengan kemanusiaan. Orang yang literat tidak mudah menghakimi, karena ia terbiasa melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. Ia tidak gampang tersulut emosi, karena terbiasa menimbang. Ia tidak anti kritik, karena sadar bahwa kebenaran tidak pernah tunggal.

Di tengah maraknya hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi, literasi menjadi bentuk perlawanan paling sunyi, tetapi paling kuat. Ia tidak berteriak, tetapi bekerja pelan-pelan membangun nalar dan kesadaran. Ia tidak memaksa, tetapi mengajak. Lalu, apa yang bisa kita lakukan secara nyata?

Pertama, biasakan membaca secara utuh dan reflektif. Tidak harus berlama-lama, tetapi kontinu. Tidak harus banyak, tetapi mendalam. Lebih baik satu tulisan dipahami, daripada sepuluh dibaca sambil lalu.

Kedua, melatih diri untuk menulis sebagai proses berpikir. Menulis bukan untuk terlihat pintar, tetapi untuk jujur pada gagasan sendiri. Dari menulis, kita belajar menyusun kerangka berfikir dan bertanggung jawab atas kata-kata.

Ketiga, ciptakan ruang literasi yang ramah dan inklusif. Jauh dari sikap menggurui, apalagi merasa paling literat. Literasi tidak tumbuh dari rasa takut salah, melainkan dari keberanian mencoba. Literasi tidak tumbuh dari merasa lebih pintar, melainkan perasaan untuk senantiasa sadar.

Akhirnya, literasi bukan proyek sesaat, melainkan laku hidup. Ia tumbuh bersama kesadaran, kesabaran, kejujuran, dan kerendahan hati. Di dunia yang terlalu ramai ini, literasi mengajak kita untuk kembali berpikir, sebelum berbicara. Membaca, sebelum menilai. Dan memahami, sebelum menyimpulkan.

 

 

Andi Budi Setiawan - Pendidik di SMK PGRI Rogojampi merupakan Ketua Komunitas Pecinta Literasi Banyuwangi (KOPIWANGI), Penulis Penerbit Lintang Banyuwangi dan Jurnalis Sastrawacana.

 

Scroll to Top