Pendidikan sejatinya bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan perjalanan membangun kesadaran manusia. Peserta didik adalah subjek pembelajaran—manusia yang berpikir, merasakan, dan tumbuh—bukan objek ekonomi yang diukur semata dari nilai dan capaian.
Kesadaran inilah yang menjadi fondasi pendekatan pembelajaran mendalam: pendidikan yang memanusiakan manusia. Dalam pendekatan ini, guru tidak lagi diposisikan hanya sebagai penyampai materi, tetapi sebagai pendamping proses belajar.
Pendidikan tidak berhenti pada apa yang diajarkan, melainkan bagaimana siswa memahami, menghayati, dan mengembangkan makna dari pembelajaran tersebut.
Di sinilah literasi memegang peran penting—bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi sebagai jalan pencerahan (enlightenment) yang membuka cara pandang baru terhadap dunia.
Pembelajaran mendalam menuntut perubahan paradigma: dari pengajaran seragam menuju pembelajaran yang menghargai perbedaan. Setiap siswa memiliki latar belakang, kesiapan, minat, dan potensi yang tidak sama. Karena itu, proses belajar perlu memberi ruang diferensiasi, agar siswa merasa diakui sebagai individu, bukan sekadar bagian dari barisan kelas.
Namun, pendekatan ini tidak akan bermakna tanpa kesadaran empati. Relasi guru dan siswa perlu dibangun di atas rasa saling memahami. Empati memungkinkan guru membaca situasi belajar secara lebih utuh—bukan hanya dari hasil evaluasi, tetapi juga dari kondisi emosional dan psikologis siswa.
Hubungan yang berangkat dari rasa inilah yang menjadikan pembelajaran lebih manusiawi dan berdaya.
Literasi, dalam konteks ini, berfungsi sebagai enrichment—memperkaya cara berpikir siswa dan guru. Melalui literasi, siswa diajak mengolah informasi, mempertanyakan makna, serta membangun nalar kritis.
Pembelajaran tidak lagi berhenti pada jawaban benar atau salah, melainkan pada proses memahami, menafsirkan, dan merefleksikan pengalaman belajar.
Sekolah juga dituntut membangun budaya yang inklusif dan terbuka. Lingkungan belajar yang sehat adalah ruang dialog, bukan ruang ketakutan.
Di sana, gagasan boleh diuji, pendapat boleh berbeda, dan kesalahan dipahami sebagai bagian dari proses belajar. Budaya semacam ini menumbuhkan kepercayaan diri sekaligus tanggung jawab pada diri siswa.
Dalam praktiknya, pembelajaran mendalam tidak harus rumit. Guru dapat memulainya dari asesmen awal yang sederhana dan jujur: sejauh mana kemampuan siswa, apa yang sudah dikuasai, dan apa yang masih perlu didampingi. Dari situ, guru merancang pengalaman belajar yang relevan—memberi tantangan yang realistis, namun tetap bermakna.
Di sisi lain, kebebasan belajar perlu dipahami secara proporsional. Kebebasan tanpa pendampingan berisiko melahirkan sikap permisif, sementara kontrol berlebihan justru mematikan kreativitas.
Pembelajaran mendalam menempatkan guru sebagai penjaga arah: mendampingi, memberi batas yang mendidik, serta menanamkan nilai-nilai kemanusiaan seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian. Pada titik inilah literasi menemukan fungsi empowerment.
Ketika siswa mampu membaca realitas, menulis gagasan, dan mengekspresikan pikiran secara kritis, mereka tidak hanya belajar—mereka berdaya. Pendidikan tidak lagi sekadar mencetak lulusan, tetapi membentuk manusia yang sadar, mandiri, dan mampu mengembangkan dirinya.
Perubahan pendidikan tentu tidak terjadi dalam satu langkah besar. Ia membutuhkan niat yang konsisten, kesabaran dalam proses, serta keberanian untuk terus merefleksikan praktik belajar.
Pembelajaran mendalam mengajarkan kita bahwa kualitas pendidikan bukan ditentukan oleh seberapa cepat materi selesai, melainkan seberapa jauh pembelajaran itu mengubah cara berpikir dan bersikap.
Sudah saatnya pendidikan kita diawali dari kesediaan untuk berhenti sejenak dan bercermin. Guru diberi ruang untuk kembali mendengar dan memahami murid, sementara kebijakan memberi kepercayaan agar proses belajar dapat tumbuh secara alami.
Ketika sekolah menjadi ruang yang inklusif dan manusiawi, pembelajaran mendalam akan hadir sebagai jalan pencerahan, pengayaan pemikiran, dan pemberdayaan generasi masa depan.
Penulis Andi Budi Setiawan
