Pergantian tahun kerap diperlakukan sebagai peristiwa seremonial. Jalanan dipenuhi kembang api, media sosial dipenuhi unggahan perayaan, dan kalender berganti tanpa banyak pertanyaan.
Tahun baru seolah hanya soal angka, bukan tentang arah. Padahal, di balik euforia itu, waktu terus berjalan tanpa menunggu kesiapan siapa pun.
Banyak orang menutup akhir tahun dengan pesta, seakan kesenangan sesaat mampu menebus kelelahan satu tahun penuh. Tidak ada yang keliru dengan merayakan kebersamaan.
Namun persoalannya, perayaan sering kali berhenti pada euforia, bukan kesadaran. Tahun baru dilewati tanpa refleksi, tanpa jeda untuk bertanya: ke mana sebenarnya hidup ini sedang diarahkan?
Sementara itu, usia terus bertambah. Tubuh menua, stamina menurun, dan berbagai kenikmatan hidup tak lagi datang semudah dulu. Kenyataan ini jarang disadari karena tertutup oleh rutinitas dan hiburan.
Padahal, bertambahnya usia seharusnya diiringi dengan bertambahnya kebijaksanaan, bukan justru kelalaian. Lebih jauh lagi, setiap pertambahan usia berarti jarak menuju kematian semakin dekat.
Ini bukan narasi pesimistis, melainkan fakta eksistensial yang sering dihindari. Kematian bukan sesuatu yang tiba-tiba datang tanpa tanda; ia hadir perlahan, bersamaan dengan waktu yang terus terkikis setiap hari. Di titik inilah refleksi menjadi penting.
Tahun baru seharusnya menjadi ruang evaluasi, bukan sekadar pergantian kalender. Refleksi membantu manusia menimbang ulang pilihan hidupnya: apakah waktu yang dihabiskan benar-benar bermakna, atau sekadar larut dalam rutinitas yang melelahkan tetapi hampa.
Refleksi yang jujur menuntut introspeksi. Ia mengajak seseorang untuk mengakui kesalahan, menilai ulang sikap, dan menyadari pola hidup yang mungkin merusak diri sendiri.
Tanpa introspeksi, tahun baru hanya akan mengulang kesalahan lama dengan kemasan yang berbeda. Ukuran keberhasilan hidup sejatinya sederhana. Mereka yang tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya layak disebut beruntung, karena mampu belajar dan bertumbuh.
Sebaliknya, mereka yang stagnan sejatinya sedang merugi, sebab waktu berlalu tanpa peningkatan kualitas diri. Dan yang lebih memprihatinkan, mereka yang justru memburuk sedang berjalan menuju kehancuran nilai, tanpa sadar.
Sayangnya, budaya refleksi belum menjadi kebiasaan kolektif. Kita lebih sibuk menyusun resolusi, tetapi jarang mengaudit diri. Lebih rajin merencanakan pencapaian, namun enggan memperbaiki karakter.
Padahal, tujuan hidup tak hanya soal apa yang ingin diraih, melainkan juga tentang siapa yang sedang kita bentuk. Tahun baru semestinya tidak berhenti pada perayaan. Ia perlu dimaknai sebagai momentum kesadaran: bahwa waktu terbatas, hidup tidak netral, dan setiap hari adalah pilihan.
Pilihan untuk bertumbuh, atau sekadar bertahan dalam kebiasaan lama. Maka, sebelum kembali larut dalam kesibukan tahun yang baru, luangkan waktu sejenak untuk berhenti.
Tanyakan pada diri sendiri: apakah hidup saya bergerak ke arah yang lebih baik? Jika belum, tahun baru adalah kesempatan terbaik untuk memperbaiki arah. Bukan dengan janji besar, tetapi dengan langkah kecil yang konsisten dan lebih sadar.
Penulis Andi Budi Setiawan
